Kisah Penyair Cilik

Aku pernah mengenal seorang penyair cilik
Jemari mungilnya memeluk pena dengan mesra; tak erat, tapi pasti
Ia tidak menulis; ia menorehkan keindahan yang lugu
Tak perlu ia menunggu inspirasi karena semua yang ditangkap inderanya adalah seni
Ia mungkin tak kuasai kata-kata semanis gula,
tapi kejujurannya dalam bersastra lebih semerbak dibanding bunga sedap malam
Tak perlu ia menonton televisi
Karena ia mewarta kepada dirinya sendiri lewat cerita-ceritanya

Tapi semua itu disimpan hanya untuk dirinya sendiri
Karena karyanya tidak pernah biasa
Dan ‘tidak biasa’ adalah tabu bagi khalayak
Ingin dirinya melawan khalayak, melawan arus,
tapi siapalah ia selain seorang bocah penyendiri yang hanya berteman dengan pena dan kertas?
Maka ia diam, meski jemarinya sibuk mengoceh,
mengkritik sana-sini dengan pena dan kertasnya
Mereka menyuruhnya untuk bersosialisasi dengan orang lain -yang nyata- dan ia menggeleng
“Bercakap dengan orang-orang lebih fiktif daripada percakapan dengan kertasku,” ujarnya
“Aku lebih menyukai gayaku karena tak bisa aku membohongi diriku sendiri.”
Maka, jika ingin bertemu dengannya,
pergilah ke ruang-ruang yang diisi kerumunan orang
Sudah? Kemudian menjauh dari kerumunan;
pelan-pelan saja, usahlah menarik perhatian
Dan kau akan menemukannya disana
Ya, disana, di sudut ruangan yang tak tersentuh hangatnya cahaya lampu,
di sudut ruangan yang hanya disinari rembulan,
sedang menceritakan kisah ini kepada kertas kesayangannya

Jadi,
Sudah menemukanku?

Bandung, 21 Juli 2015

Shiragami Aiko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s