Menulis: Sajian Secangkir Isi Hati di Atas Nampan Kertas

You pour your thoughts off while texting and freaking throw your soul off while writing.”

Seperti biasa, random thoughts in the middle of night. Ide-ide secepat kilat di saat mata sudah kelelahan. Pemikiran-pemikiran yang timbul dari balik selimut.
Sudah lebih dari 3 bulan dan aku masih menganggur di rumah, hanya keluar saat mengantar-jemput adikku ke sekolah dan saat bermain–yang, sayangnya, tidak produktif. Aku rindu beberapa hal yang biasanya kulakukan saat sedang disibukkan dengan kegiatan perkuliahan, salah satunya adalah menulis.
Menulis? Ya, menulis. Bukan mengetik di komputer, tidak, kalau itu sudah khatam kulakukan selama liburan ini. Tidak, menulis-tangan maksudku. Aku jadi agak waswas, bagaimana jika tulisanku menjadi lebih jelek daripada sebelumnya? Apalagi di semester ini aku berencana akan mengambil bidang kajian jurnalistik yang menuntut kemampuan menulis. Ah, sudahlah. Di samping itu, ada sesuatu yang hilang dariku, yang selalu muncul saat aku sedang membiarkan jemari dan penaku berdansa. Aku sendiri tidak tahu apa itu.
Zaman sekarang, dunia semakin canggih–dan semakin instan. Ingin menulis (mengetik), gunakan saja ponsel. Bertukar kabar dengan kerabat dari luar, pakai saja e-mail. Bahkan saat mengikuti kuliah pun, jika tak sempat menulis materi perkuliahan, kamera ponsel dengan high quality resolution senantiasa siap membantu. Rasanya kita seakan dimanjakan oleh kemudahan teknologi.
Lantas, apakah itu dapat diartikan sebagai keuntungan atau kerugian buat kita?
Bagiku, teknologi merugikan. Lho, kenapa? Mungkin kalian akan bertanya-tanya seperti itu. Jawabannya mudah saja: aku ini seorang pemalas, dan kecanggihan teknologi yang terus maju membuatku makin malas. Malas menulis, malas curhat di buku harianku, malas melanjutkan deadline cerita-ceritaku. Semua itu terjadi karena aku selalu berpikir, “Ah, tinggal kucatat saja di note ponsel, lalu kukerjakan lain waktu, beres.” Sayangnya, aku pun malas mengetik, apalagi di ponsel. Pada akhirnya, semua notes milikku terabaikan. (Catatan: bahkan tulisan ini pun baru kulanjutkan kembali selewat lebih dari dua pekan.)
Itu baru satu alasanku. Yang kedua, aku lebih sering mengalami writer’s block pada saat mengetik jika dibandingkan dengan saat aku menulis-tangan. Entahlah, mengetik membuatku merasa seperti robot. Soulless. Aku tidak dapat menuangkan apa yang kurasakan ke dalam karya-karyaku seperti seharusnya. Padahal saat menulis, emosi dan makna yang ingin kutanamkan tersirat jelas lewat bagaimana bentuk tulisanku, bagaimana aku menekan pulpenku di beberapa kalimat dan bagaimana aku nyaris tidak mempertemukan penaku dengan permukaan kertas ketika aku sedang bimbang. Saat mengetik, gagasan-gagasanku menetes. Saat menulis, seisi jiwaku tumpah.
Barangkali setelah ini kalian akan kembali bertanya, lantas, kenapa kau memuat tulisan ini lewat blogHei, kuberitahu saja, ya, aku mengetik karya ini dengan penuh pertimbangan: aku malas, tapi aku harus memuatnya dalam blog-ku agar semua orang dapat membacanya, tapi aku masih malas, tapi ini bisa jadi berarti buat diriku sendiri dan kalian yang membacanya. Biar kuperjelas sedikit, kawan; kalau boleh jujur, aku ini–katakanlah–senang pamer. Bukan pamer segala hal yang aneh-aneh, bukan. Aku hanya senang memamerkan apa yang menurutku harus kupamerkan. Jika tidak, ya, takkan kubiarkan siapapun melihat atau merasakannya. Karya ini misalnya. Aku ingin kalian tahu bahwa menulis adalah suatu pengalaman yang menyenangkan, sarana terbaik bagi kalian yang ingin melampiaskan berbagai emosi yang kalian rasakan. Menulis, kubilang, bukan mengetik. Mengetik hanya akan memuat unek-unek dalam benak kalian tanpa membawa beban perasaan bersamanya. Maka, bagi kalian yang selama ini lebih memilih untuk ‘menulis’ secara instan lewat kecanggihan teknologi yang kian hari kian mumpuni, cobalah menulis. Tak perlu yang rumit-rumit; tulis saja dulu kejadian apapun yang telah kalian alami seharian terakhir ini. Menulis bukanlah persoalan ‘siapa yang paling bagus’ atau ‘siapa yang paling jago’–menulis adalah soal siapa yang paling mampu menyajikan secangkir hangat isi hatinya dengan kertas sebagai nampannya.
Jadi, sudahkah kalian menulis hari ini?

Love,

Shiraiko.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s