‘Fenomena’ Empati lewat Media Sosial: (hanya) Curahan Hati

[Warning: this will be a super-long post. And sorry for the content.]

image

Just found this pic on Instagram, and it makes me think somehow.

Bukan untuk pertama kalinya aku melihat gambar-gambar seperti itu di media sosial. Seiring dengan berjalannya waktu dan makin banyaknya posting-an tentang orang-orang kurang beruntung yang ‘menginspirasi’ dan sejenisnya, gambar-gambar ‘sindiran’ pun ikut bermunculan sebagai bentuk respon dari konten-konten tersebut.

Sejak salah satu jejaring sosial menjadi semakin populer dengan fitur ‘timeline‘-nya–ditambah dengan fitur baru untuk memfasilitasi official account–rasanya hidup menjadi semakin ‘ramai’. Kisah-kisah ‘inspiratif’, ‘religius’, ‘mengharukan’ dan ‘kritis’ kian sering dipublikasikan (atas nama ‘humanisme’, katanya), tidak lupa embel-embel atau tagline, “Like and share supaya orangtuamu masuk surga”, “Share kalau kamu peduli dengan orang ini”, “Like agar pemerintah (atau pihak lain) segera turun tangan untuk mengatasi hal ini”, dan lain sebagainya. Malah, ternyata zaman sekarang masih ada pesan inspiratif bernada ‘ancaman’, misalnya post atau pesan broadcast yang di akhirnya terdapat kalimat, “Dalam Surah (blablabla) ayat (sekian) Tuhan berfirman, ‘(bunyi ayat tentang menyampaikan pesan kepada sesama manusia)’. Maka sebarkanlah pesan ini ke (sekian) orang dan kamu akan mendapat (mukjizat atau rezeki tertentu), dan jika kamu abaikan maka (musibah tertentu) akan menimpamu selama (sekian waktu).” Herannya, masih ada pula orang-orang yang menyebarkan pesan tersebut begitu saja–tapi, entahlah, semua orang takut dengan azab dari Tuhan, kan? Selain itu, ada satu lagi jenis ‘ancaman’ yang kadang masih kutemukan: ‘ancaman’ yang menyetarakan kita dengan ‘orang-orang dzalim / munafik’ apabila pesan tersebut berhenti di kita. Misal, “Anda bisa menyebarkan ribuan pesan cinta dan maksiat, tapi kenapa tidak bisa menyampaikan pesan Tuhan dan Nabi kepada sesama?” Atau, “Gak like = gak sayang ortu.” Astaghfirullah. Sebenarnya masih banyak contoh ‘ancaman’ dan ‘pesan jempol’ lainnya, tapi jika kutuliskan semua, post ini akan kehilangan intinya.

Aku memang bukan ahli dalam bidang seperti ini; hanya seorang mahasiswi Jurnalistik biasa yang baru memasuki tahun keduanya di ranah perkuliahan. Aku bahkan belum mempelajari lebih lanjut tentang perubahan sosial masyarakat akibat perkembangan IPTEK. Tapi kali ini, biarlah aku membahas topik ini melalui sudut pandang seorang pengamat amatir; seorang konsumen yang seleranya tidak begitu mengikuti pasar; seorang agamis-bukan-religius dan manusia-bukan-humanis yang tidak begitu suka saat agama dan rasa kemanusiaannya dijadikan ‘bisnis’ oleh oknum tertentu.

Pertama, mengenai embel-embel ‘like and share‘ tadi–yang juga berkaitan dengan gambar di atas. Bukannya kisah-kisah ‘jempol’ itu tidak mengetuk sanubariku; tidak, cerita ‘inspiratif’ yang disampaikan secara massa itu malah sering membuatku menyadari bahwa tidak semua orang seberuntung diriku dalam beberapa aspek kehidupan. Hanya saja, ketika orang-orang yang membacanya merasa sedih karena kisah itu, aku justru sedih karena kisah orang-orang ‘inspiratif’ tersebut malah dijadikan komoditas bagi pihak-pihak tidak bertanggungjawab. Tentu ada sebagian orang yang memang mempublikasikan hal tersebut murni karena ingin membukakan mata orang-orang agar tidak terlalu mencintai dunia, tapi sampai sejauh ini, aku lebih sering menemukan posting-an seperti itu yang menyatakan bahwa, katakanlah, satu tombol like atau share yang kita klik dapat membantu orang atau kisah terkait agar menjadi lebih baik. Maaf, tapi aku tidak menemukan relasinya. Apakah dengan satu kali menyukai post di LINE berarti subjek dalam post itu langsung mendapat Rp100,-, sejumlah dana pengobatan, dan hal-hal material atau nonmaterial yang ia butuhkan begitu saja? Apakah sebuah like  dapat menjadi penentu rasa sayang kita terhadap orangtua? Apakah dengan mengabaikan post itu akan langsung menjebloskan kedua orangtua kita ke dalam neraka; sejak kapan Tuhan butuh media sosial untuk menentukan kemana seseorang akan dimasukkan setelah tenggat waktunya di dunia habis? Naudzubillah, baru kudengar ada hal semacam itu. Sejak kapan humanisme dapat diukur lewat banyaknya jempol yang diberikan untuk sebuah status? Sejak kapan media sosial masuk dalam catatan amal untuk bekal di akhirat nanti; apakah ada dalilnya dalam kitab suci kepercayaan manapun di dunia? Kecuali mereka memang menganut ‘aliran media sosial’, misalnya. Bagiku, fenomena ini adalah suatu kombinasi antara ketololan, kekonyolan, dan–barangkali–kekafiran yang timbul dalam perkembangan era komunikasi digital saat ini. Hidup yang sebenarnya begitu mudah dibuat menjadi dramatis, lebay. Kenapa harus repot-repot menyukai sebuah status Facebook tentang seorang cacat yang kesulitan dana (dan kenyataannya tidak membantunya sama sekali) jika kita bisa membantu kerabat dekat kita yang sakit dan terlilit permasalahan biaya–dan bukannya menghamburkan uang kita untuk nongkrong di kafe hits sambil membicarakan kisah malang yang kita baca di internet; bukankah itu sebuah ironi? Kenapa–maaf–sok-sokan men-share posting-an dengan kalimat berbunga-bunga yang menggambarkan harapanmu agar ibumu masuk surga, sementara dirimu mencium tangannya sebelum berangkat ke kampus saja tidak pernah? Bukan, ini bukan persoalan apakah aku iri dengan akun-akun yang mendapat banyak likes karena apa yang mereka publikasikan; ini masalah mental, masalah kesadaran diri untukku. Aku tidak suka dengan mereka yang memanfaatkan rasa belas kasih manusia hanya demi kepentingan tertentu dan mempopulerkan diri mereka sendiri; aku juga tidak suka dengan mereka yang merasa bahwa like dan share itu sudah mencitrakan perilaku mereka di dunia nyata sementara realitanya tidak demikian. Pencitraan ini, pencitraan itu. Aku tidak benci pencitraan, aku hanya benci dengan sok pencitraan. Akan lebih baik jika mereka membentuk image mereka di dunia nyata terlebih dahulu, daripada sibuk membangun citra di dunia maya dan mengabaikan apa yang telah ditanamkan oleh kedua orang tua mereka sejak kecil.

Yang kedua, pesan ‘ancaman’–biasanya mengandung pesan tentang hari kiamat. Astaga, kupikir hal-hal seperti itu sudah punah, hingga sebulan yang lalu aku kembali mendapatkan broadcast seperti itu. Pesan berantai dengan ekor pesan berbunyi, “Bagikan atau anda akan terkena musibah.” Maaf, tapi, siapa kalian untuk menentukan nasib seseorang hanya dari penyebaran pesan? Dari siapa kalian pikir pesan itu berasal; dari Tuhan? Oke, konten pesannya memang sangat bermanfaat; masyarakat sekarang ini memang butuh sekali informasi mengenai tanda-tanda terjadinya kiamat dan hal-hal yang dilarang oleh Tuhan agar tidak lupa bahwa hidup mereka saat ini hanya pinjaman. Tapi ‘ancaman’ yang ditambahkan di akhir pesan tersebut sangat menggangguku. Mungkin karena aku salah satu manusia yang ‘mengingkari Tuhan’? Tidak, kurasa aku tidak seekstrim itu, sebanyak apapun dosa yang kupunya. Aku mengakui adanya Tuhan, maka dari itu aku mempertanyakan broadcast messages yang demikian, yang dibuat seakan-akan itu adalah wahyu yang turun langsung dari-Nya. Bagiku–lagi–itu adalah bentuk pengingkaran terhadap Yang Maha Esa, Yang Maha Penentu. Jika mereka menyebarkan pesan menakutkan tersebut tapi tetap melakukan perbuatan dosa, maka apa dampaknya bagi mereka? Pahala tidak didapat, dosa makin menjadi. Bagi si sumber awal pesan? Juga tidak ada, tapi mungkin mereka mendapat kepuasan tersendiri karena telah berhasil menjahili dan menakut-nakuti orang lain.

Aku tidak tahu lagi apa yang harus kucurahkan… Sudah terlalu banyak yang kumuntahkan disini. Jika terus dilanjutkan, kalian akan bosan. Aku akan bosan. WordPress akan bosan dan menutup lamanku. Orang-orang akan bosan karena mereka melulu mendapat kritik atas gaya hidup baru mereka sambil kemudian memprotes, “Dia, kan, begitu juga!” Aku lupa apakah sudah kusebutkan sebelumnya, tapi tulisan ini tidak kutujukan bagi satu atau beberapa pihak tertentu. Ini kutulis untuk semua orang yang membacanya, yang kemudian merasa dan tersindir, karena aku pun merasa demikian ketika menulis laman ini. Cuap-cuap terakhir dariku, cerdaslah dalam menggunakan media, karena pilihanmu hanya tiga: media membodohimu, kau dibodohi oleh media (dan penggunanya), atau kau memang bodoh. Silakan berempati terhadap sesama, tapi saranku, cobalah untuk menyalurkan empatimu secara nyata terlebih dahulu sebelum membiarkan jempolmu meliar saat bertemu posting-an mengharu-biru-mengharukan-menyayat-sanubari yang bisa saja dimanipulasi demi kepentingan pihak tertentu.

Itu saja racauanku kali ini. Selamat bermedia! 🙂

Shiragami Aiko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s