Kisah si Bunga Terindah

Seperti biasa, kali ini aku menghabiskan sisa malamku dengan menelusuri posts orang-orang di Instagram. Dan ketika tiba di salah satu post milik seseorang yang tidak kukenal, mendadak aku terdiam.

Hari ini, 3 Oktober, adalah hari ulang tahun kekasihnya. Aku tidak melihat ada yang aneh dari post-nya, karena aku pun biasanya merayakan ulang tahun kekasihku dengan mengunggah foto di Instagram–hingga aku membaca komentar orang-orang di foto unggahannya tersebut. Selidik punya selidik (atau, hasil stalking, lebih tepatnya) ternyata kekasih orang ini sudah tiada. Tampaknya kepergiannya belum lama, masih di kisaran tahun ini, dan entah penyebabnya apa (kendati ada seseorang yang meninggalkan komentar mengenai “lihat di berita”; kecelakaan, kutebak). Aku tidak akan menyebutkan siapa nama si pengunggah maupun kekasihnya, karena 1) kami tidak saling kenal dan 2) ini urusan privasi.

Terlepas dari siapa mereka dan apa penyebab kepergiannya, aku sempat tercenung sejenak. Tidak dapat kubayangkan bagaimana perasaannya, mulai dari saat ia mendengar kabar duka itu hingga sekarang. Tak terbayang, karena aku pun pernah kehilangan seseorang yang kukenal, yang tidak begitu dekat sebenarnya, tapi kepergiannya masih membuat ulu hatiku sakit hingga saat ini. Ia adalah rekan sekaligus pengajar dance-ku di salah satu komunitas cover dance di Bandung, salah satu pemuda terhebat yang pernah kutahu. Berlebihan? Kurasa tidak; kau tidak akan mengerti sebelum mengenalnya secara langsung. Dia adalah kombinasi dari wajah tampan dengan tipe mongoloid, tubuh tinggi semampai, kulit putih, senyum manis, dan gaya hidup sehat. Itu baru fisiknya–sifatnya pun tidak kalah kerennya. Baik hati, senantiasa membantu dan memotivasi teman-temannya, ambisius, kemampuan dance yang patut diacungi jempol, otak cerdas, rajin beribadah, jago berbahasa asing (Inggris, Korea dan Jepang), santun, dan gentle. Nyaris tidak kurang satu hal pun. Banyak sekali yang menyukainya–aku juga termasuk, kalau boleh kuakui–bahkan ia punya fanclub sendiri. Bisa kubilang, ialah salah satu karunia Tuhan yang paling mendekati sempurna.

Sayangnya, bunga terindah adalah bunga yang paling pertama diambil.

Saat aku mendengar kabar itu dari salah seorang sahabatku, reaksi pertama yang kutunjukkan adalah tidak percaya. Aku menolak percaya. Kuanggap berita tersebut hanya lelucon semata, hingga ia memberikan link berita online yang memuat informasi tentang kecelakaan itu, yang menyebabkan temanku itu pergi bersama dengan dua orang penumpang mobil lainnya, sementara dua orang lainnya sempat mengalami koma dan sisanya terluka akibat terkena benturan dan pecahan kaca. Sudah dua jam, aku masih menolak. Aku mencari informasi ke Twitter, dan yang kutemukan adalah berbagai ucapan belasungkawa dari rekan-rekanku sesama cover dancer. Masih tidak mau mengakui, aku menelepon sahabat-sahabatku yang mengenalnya dan melaporkan kejadian itu. Reaksi mereka tidak jauh berbeda denganku: terkejut dan menganggap semua itu sebagai candaan belaka. Tangisku baru tumpah saat aku memutuskan untuk menyampaikan kabar itu pada ibuku, maksudnya agar aku diizinkan untuk tidak ikut ke Jakarta dan tetap di Bandung, mengikuti acara doa bersama yang diadakan oleh komunitasku. Permintaanku tidak dikabulkan, tapi akhirnya aku baru percaya. Seorang rekanku, orang yang selama ini menjadi tolok ukur dan motivasiku dalam mencapai prestasi, telah tiada. Ia bahkan belum menerima surat tanda kelulusan tingkat SMA saat itu. Bukankah ia telah berjanji padaku untuk meneruskan kuliah di Jepang, negara impian kami? Tapi semua sudah berakhir. Tuhan telah memetik bunga terindah itu untuk dipajang di rumah-Nya. Dalam vas yang indah pula, kuharap; ia pantas mendapatkannya.

Post di Instagram tadi seketika membuatku teringat rasa sakit yang kurasakan saat kawanku itu berpulang. Kejadiannya lebih dari setahun yang lalu, di akhir bulan April, akibat kecelakaan mobil di jalan tol. Aku ingat betul, kecelakaannya terjadi pada sore hari, aku mendengar kabarnya pada malam hari, dan aku melewati lokasi naas tersebut tepat subuh hari setelahnya ketika akan bertolak ke Jakarta. Kubuka mataku lebar-lebar saat itu–yang masih bengkak akibat menangis semalaman–mencoba mencari tanda-tanda lokasi persisnya ia terakhir kali berada, tapi nihil. Nampaknya petugas telah bergerak gesit sehingga tak ada lagi jejak yang tersisa disana. Namun bagaimanapun, aku juga tak yakin akan seperti apa jadinya bila bukti kecelakaan itu masih ada disana.

Sejak saat itu, aku memandang hidup dengan cara berbeda. Kini bagiku, mereka yang dipanggil oleh-Nya ibarat bunga-bunga mekar yang akhirnya terlihat keindahannya, yang akhirnya diambil oleh-Nya, karena Ia menyukai keindahan. Dalam hal temanku, aku punya asumsi lain; Tuhan begitu menyayanginya hingga tak ingin dirinya ternodai oleh kotornya dunia saat ini. Asumsi ini adalah favoritku. Hanya ada satu yang seperti dirinya di dunia ini, yang begitu murni, begitu asli, tanpa dibuat-buat demi citra semata. Tidak boleh ada yang merusak bunga indah yang langka itu; tidak para benalu nakal yang bisa jadi menjeratnya, tidak bunga-bunga nyaris busuk yang mencari sisa nyawa darinya yang jelas masih segar, tidak pula tangan-tangan nakal yang buta nilai estetika. Ia hanya milik Sang Maha Sempurna. Tak ada satupun dari kami yang punya hak milik atas dirinya.

Terakhir dariku, teruntuk diriku sendiri dan kalian yang kehilangan orang-orang terdekat, ingatlah satu hal: selalu kirimi mereka doa. Itulah yang akan menjaga mereka–bunga-bunga terpilih itu–supaya tetap segar. Jangan khawatir; Tuhan akan senantiasa merawat mereka agar tetap hidup. Kita hanya bisa menyiraminya lewat doa. Dan teruntuk kalian, para bunga pilihan-Nya… Berbahagialah disana. Kunjungi tempat-tempat impian kalian, datangi mimpi-mimpi orang-orang terkasih kalian, karena mereka merindukan kalian begitu dalam. Khusus untukmu, hai, bunga terindah yang pernah kukenal, kuucapkan terima kasih banyak. Kau selalu menginspirasiku, bahkan hingga sekarang ini. Apa kabarmu? Sudah kau kunjungi Jepang? Sudah kau saksikan musim Sakura dan festival musim panas disana? Oh, ya, terima kasih karena telah menyempatkan untuk mampir ke dalam mimpiku beberapa kali. Kalau mau datang lagi, silakan; pintunya selalu terbuka untukmu. Doa kami menyertaimu, juga bunga-bunga lainnya.

Selamat malam.

Shiragami Aiko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s