Keluarga, Mahasiswa, dan Jurnalistik – Episode 1

Tanggal 24-25 Oktober 2015 merupakan dua hari yang tidak akan habis diulas hanya dalam satu halaman blog seperti ini. Butuh setidaknya seisi penuh blog, bercangkir-cangkir kopi (atau susu hangat), dan–terutama–pengalaman pribadi langsung jika ingin menghayati kisah dua hari tersebut lebih lanjut. Maka kuputuskan untuk membagi kisah ini dalam beberapa ‘episode’.
Nama ajang ini, Jambore Jurnalistik. Temanya, “Find Yourself in Journalism,” dan diadakan di kawasan Ranca Cangkuang, Gambung, Ciwidey; sebuah tempat perkemahan terpencil yang minim sinyal dan permukiman. Dari apa yang kutangkap, Jambore kali ini mengarahkan kami–para peserta–untuk menemukan jati diri kami dalam ranah Jurnalisme. Klise? Mengawang? Tampaknya begitu. Tapi begitu pula adanya; makanya, sudah kubilang, butuh pengalaman langsung untuk memaknai kegiatan ini.
Awalnya, kami para mahasiswa Jurnalistik baru agak ketakutan. Pasalnya adalah sugesti yang terus ditanamkan pada benak kami tentang kegiatan Jambore Jurnalistik: seram, tegang, kaku, galak. Bahkan, menurut seorang temanku-beda-jurusan yang (katanya) mengobrol dengan senior kami dari Jurnalistik, peserta yang sakit hanya akan diberi ucapan, “get well soon, ya.” Kejam? Kejam. Sebuah sugesti yang amat suram, terlebih bagi kami yang saat itu akan menjadi tokoh utama dari kisah ‘mistis’ tersebut. Apalagi pihak alumni angkatan lama juga turut serta dalam Jambore Jurnalistik. Siapa yang menanamkan sugesti itu? Sejujurnya, mereka bahkan bukan berasal dari bidang kajian Jurnalistik–atau setidak-tidaknya, tidak pernah menjadi peserta kegiatan Jambore Jurnalistik. Mindset ‘horor’ mereka di-setting oleh kabar burung, lewat mulut ke mulut, kumpulan opini yang kemudian diproses menjadi ‘fakta’. Lantas, apa kata para senior kami yang memang berasal dari Jurnalistik? Jawaban mereka merupakan kontradiksi dari mindset awal tadi. Mereka bilang, Jambore Jurnalistik itu menyenangkan. Seru. Menambah ilmu. Awal dari keeratan tali persaudaraan kami sesama mahasiswa Jurnalistik. Bahkan, mengharukan. Mereka bilang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kegiatan itu (kecuali candaan mereka bahwa, “Angger weh kudu siap mental.”) Mereka bilang, selama kami memaknai acara tersebut sebagaimana mestinya, kami akan menyadari bahwa semua mitos tentangnya akan buyar. Mereka dapat berkata seperti itu karena mereka pernah menjadi aktor di Jambore angkatan mereka masing-masing, jelas. Mereka telah mengalaminya secara langsung. Namun bagiku, tetap saja, kedua pandangan yang bertolak belakang tadi masih terlalu subjektif untuk dicerna begitu saja.
Jujur, kecemasan yang melanda kawan-kawanku tidak berdampak banyak pada mentalku sendiri (tentu aku juga cemas, tapi kadarnya tidak setinggi mereka). Malah, aku jadi penasaran. Aku ingin membuktikan dan membandingkan sendiri opini-opini yang dikemukakan oleh mereka yang mengalami Jambore Jurnalistik dengan mereka yang mendengar isu. Aku adalah penganut paham rasionalisme, yang tidak akan percaya pada apapun sebelum mengalaminya sendiri. Maka kukumpulkan segala suara terkait kegiatan Jambore Jurnalistik dari siapapun: mahasiswa Jurnalistik tingkat atas, mahasiswa non-Jurnalistik yang punya kawan dari Jurnalistik, mahasiswa yang asal dengar saja, dan lainnya. Perbedaan pendapat itu kemudian menjadi bahan perbandinganku saat menjalani kegiatan tersebut. Kutanamkan semuanya di otak, kuuji mentalku sendiri, lalu kuputuskan untuk mengikuti rangkaian acara tersebut dari awal hingga akhir untuk membuktikan opini siapa yang paling akurat. Tentu, sebagai rasionalis, aku cenderung berpihak kepada pendapat para mahasiswa Jurnalistik senior. Namun tak dapat kupungkiri bahwa angkatanku–angkatan 2014–agak bermasalah dalam urusan kekeluargaan, jadi ‘teror’ dari pihak lain juga bukannya tidak mungkin terjadi.
Namun, sejak kegiatan Pra-Jambore, aku langsung memutuskan kepada siapa aku percaya.
Kusadari, acara ini memang mempererat hubungan antar peserta. Kami dituntut untuk lebih mengenal satu sama lain lewat berbagai tugas dan pemenuhan kebutuhan (pribadi dan kelompok) sebelum Jambore dimulai. Kami–sadar atau tidak–jadi lebih sering mengobrol dengan kawan kelas kami soal Jambore. Kami sibuk ribut-ribut soal apa saja yang harus dan tidak boleh dibawa ke perkemahan. Kami jadi lebih dekat dengan para senior sekaligus panitia acara karena berusaha ‘mencuri hati (atau rundown)’ mereka.
Lantas, apa yang terjadi pada tanggal 24 Oktober? Silakan baca episode 2.

Shiragami Aiko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s