Keluarga, Mahasiswa, dan Jurnalistik – Episode 2

[Lihat episode 1]

Singkat kata, tanggal 24 Oktober pun tiba. Kami disuruh berkumpul di kampus pukul setengah lima pagi, dan aku terlambat setengah jam. Tapi, alih-alih hukuman dan bentakan layaknya ospek fakultas dahulu, keterlambatan kami disambut oleh kesibukan para panitia yang sedang menata keperluan kemah kami. Setelah semua peserta tiba, kami pun berangkat menuju lokasi perkemahan di Ciwidey menggunakan truk tentara–dan merasa layaknya sapi kurban akibat kapasitas truk yang dipaksakan agar muat untuk menampung 48 orang peserta beserta tas-tas gunung kami yang juga sebesar gunung. Mengesampingkan fakta bahwa sebagian besar penumpang harus berdiri selama 3 jam nonstop, udara di dalam truk sangat tidak kondusif akibat debu dan asap rokok yang dikepulkan mereka yang semena-mena, dan bagaimana kami berusaha tidur agar tidak mabuk darat selama perjalanan, kami senang. Rasanya seperti piknik (atau barangkali seperti itulah yang para sapi rasakan sebelum tiba di tempat pemotongan). Kami mengkhianati fakta lain bahwa perjalanan menuju lokasi amat menyiksa akibat kondisi jalan yang buruk dan pantat-pantat yang kram. Setibanya di Ranca Cangkuang, kami kembali diuji: menyeberangi sungai lewat tiga batang kayu yang berjajar vertikal, mendirikan tenda sembari buta dalam memasang rangka dan pasaknya, serta bolak-balik antara lahan panitia dengan lahan peserta melewati sungai dangkal yang tetap saja bikin basah. Untuk yang terakhir itu, karena aku lelah bersusah payah menyeberangi sungai setinggi tulang kering dengan menginjak batu-batu licin, aku pun mengkhianati aturan dengan bersikap masa bodoh dan berjalan langsung di sungainya. Persetan dengan celana basah, toh tidak menyeluruh; lagipula, aku memakai sandal gunung, jadi mestinya tidak perlu khawatir bagaimana jika alas kakiku tidak bisa dipakai. Para pemuda–peserta maupun panitia–yang melihat aksiku hanya bisa tercengang. Pembelaanku yang paling simpel saat itu hanyalah, “Kagok edan.”
Kegiatan yang berlangsung sepanjang siang di hari pertama cukup seru; presentasi tugas kelompok, pembekalan materi tentang kondisi media di Indonesia saat ini oleh Bang AT, makan siang yang disponsori oleh McDonalds (plus segalon soda segar lengkap dengan es batu dan dispensernya), ulasan singkat mengenai kegiatan Jambore Jurnalistik dan kejurnalistikan itu sendiri oleh empat dosen ternama di bidang kajian Jurnalistik: Pak Dodi, Pak Yadi, Bu Rita, dan Bu Ratri; materi tentang media online oleh Kang Tri dari okezone.com, serta acara keakraban antara panitia dengan peserta. Disini pula, mitos-mitos mengenai alumni terpatahkan. Bukannya ketakutan, kami justru dapat mengobrol santai dengan mereka.
Kemudian, puncak dari rangkaian acara Jambore Jurnalistik pun tiba.
Selepas Maghrib, kami melakukan tracking dan melewati lima pos yang telah disiapkan oleh panitia. Sialnya, kelompokku mendapat giliran pertama, terima kasih kepada sang ketua. Hal konyol yang kami alami disini adalah… tersesat. Ya, dan hal sialan ini kemudian menjadi bahan perbincangan selama pos berlangsung hingga seminggu ke depan (karena ada satu kelompok lagi yang juga tersesat bahkan hingga mencapai gerbang campground, lebih jauh daripada kelompokku). Pos pertama–yang membahas tentang Kejurnalistikan–diisi oleh para alumni seperti mas Sugeng dari angkatan 2001. Kami duduk melingkari api unggun dan membahas segala tentang Jurnalistik, Jurnalisme, Jurnalis, dan konglomerasi media. Pembicaraan yang serius namun tentu sangat menarik. Kurasa tak perlu menceritakan tentang pos-pos bayangan yang ada setelah pos-pos utama selesai, karena isinya adalah para anggota dari lima divisi yang ada dalam Keluarga Mahasiswa Jurnalistik (KMJ). Pos kedua–pos kekeluargaan–dihuni oleh kang Deo, mantan ketua KMJ periode 2014-2015, serta beberapa alumni muda lainnya. Kami membahas secara terminologis mengenai apa itu keluarga, terutama apa yang disebut sebagai Keluarga Mahasiswa Jurnalistik sebenarnya. Kang Deo membagikan pengertian yang ia dapat selama bergabung dengan KMJ dan secara tidak langsung turut membakar semangat kami untuk menjadi anggota ‘keluarga’ selanjutnya. Kegiatan terakhir sebelum beranjak ke pos bayangan dua dan pos tiga adalah meneriakkan ‘simsim’ (yel-yel) KMJ:
“Keluarga Mahasiswa Jurnalistik!
Jurnalistik!
Jurnalistik!
Jurnalistik!”
Kami memekikkan tiga kata dan tiga pengulangan kata itu dengan sepenuh hati, hanya dikalahkan oleh rasa kantuk dan dingin yang mulai menusuk tulang.
Mari kita lewati pos bayangan dua. Pos tiga adalah pos yang paling kuantisipasi kisahnya. Begitu banyak pelajaran dan pengalaman yang kudapat dari pos ini hingga butuh satu episode khusus untuk menceritakannya.
Sampai bertemu di episode 3!

Shiragami Aiko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s