Stop Stereotip!

Aku bingung. Terlalu banyak stereotip yang terbentuk dalam pola pikir masyarakat negeri ini. Terlalu banyak hal yang dihakimi padahal keseluruhan faktanya belum terungkap. Kita ini masyarakat modern dengan mindset tradisional, lucu juga.

Ada suatu acara yang tadinya akan diadakan oleh sebuah universitas negeri di Malang. Kebetulan salah satu panitianya adalah sahabatku. Acara berskala internasional ini–setahuku–mengangkat tema LGBT yang kemudian akan dibahas secara mendalam dan menyeluruh; soal hal tersebut sebagai minoritas, suara dari para pemuda terkait permasalahan tersebut, dan lain-lain. Mendukung LGBT? Tampaknya tidak demikian. Maksudku, sejak kapan membahas suatu topik dapat diartikan sebagai bentuk dukungan terhadap hal tersebut? Kecuali tertera dalam publikasinya pernyataan, “We Hereby Support LGBT.” Itu baru masalah.

Berita buruknya–atau berita baik bagi segelintir pihak–acara tersebut kemudian dibatalkan. Menurut sahabatku, para panitia mendapat teror, kecaman, dan tekanan keras baik dari pihak universitas maupun dari lembaga-lembaga ‘religius’ dan ‘sosialis’ lain, bahkan dari luar kampus. Bahkan ada beberapa ormas ‘agamis’ yang terindikasi akan melakukan tindakan anarkis jika forum internasional tersebut berlanjut. Halo? ‘Agamis’, kalian bilang? Nama kalian saja yang mengandung kata ‘Islam’; sikap kalian sangat jauh dari nilai-nilai keislaman. Apakah Rasulullah pernah memerintahkan umatnya untuk melakukan teror? Apakah suri tauladan kalian pernah? Islam tidak pernah menganjurkan kekerasan, Islam tidak pernah membatasi kebebasan berpendapat selama sifatnya tidak berat sebelah (apalagi untuk isu sensitif seperti ini). Islam mengajarkan kebaikan, kecuali kalian memang mendefinisikan kekerasan sebagai bentuk lain dari ‘kebaikan’.

Di luar semua itu, aku kecewa. Ternyata bangsa ini masih berpola pikir stereotip, masih jijik dengan hal-hal minoritas dan dianggap ‘tabu’, masih anti dengan penyampaian pendapat. Bicara tentang edukasi seks yang sesuai konteks, tertawa. Hendak membuka forum diskusi LGBT, diancam. Melawan kekuasaan sepihak yang merugikan rakyat, dilenyapkan. Masuk bidang kajian Jurnalistik yang kuantitasnya sedikit, dipandang sebelah mata. Mana kebebasan berpendapat kami? Mana kebebasan yang dijanjikan itu? Anda semua ini masih menganut jiwa-jiwa Orde Lama dan Orde Baru? Masih berorientasi pada penyebaran ‘hal-hal positif’ dan ‘umum’? Apakah ‘hal-hal positif’ ini nilainya selalu benar? Tidak. Apakah ‘hal-hal negatif’ yang kalian pandang dengan rasa tidak suka seperti melihat kecoa itu nilainya selalu salah? TIDAK. Apakah hal yang mainstream lebih berharga daripada secuil fakta yang terkubur oleh popularitas? Tidak. Tolong, berhenti membiarkan pola pikir kalian sesempit itu. Orbit pikiran kalian lebih luas dari apa yang kalian kira sebelumnya–sambil sedikit mengutip perkataan dari seniorku. Aku tahu, sebenarnya mindset kalian tidak sesempit itu. Aku tahu, sebenarnya kalian punya pendapat yang bisa diutarakan, tapi kalian tidak bisa (atau tidak mau?) menyampaikannya karena satu alasan: ‘takut’. Pada siapa? Tuhan? Apakah Tuhan akan menghukum kalian karena telah berpendapat? Tidak (kecuali jika ada hubungannya dengan menyekutukan-Nya). Kebebasan berpendapat juga telah diatur dalam UUD 1945, dan MESTINYA mudah terwujud.

Kembali ke persoalan forum LGBT tadi. Jika forum seperti itu saja dilarang, bagaimana dengan forum-forum lain yang lebih krusial? Bagaimana kita bisa mengerti soal apa itu LGBT dan latar belakangnya? Apakah kita mau saja dicekoki definisi umum kalau LGBT adalah, “Yang homo-homo, yang banci-banci”? Kurasa pengertiannya tidak sesimpel itu. Tanpa pengetahuan yang memadai, orang-orang tidak akan bisa mengetahui apa-apa saja yang mengindikasikan kecenderungan LGBT. Para pelakunya hanya akan dikenai sanksi moral berupa ejekan dan isolasi dari masyarakat. Padahal BUKAN BEGITU cara anda ‘menghukum’ pelaku LGBT. BUKAN dengan judgement. Dengan mengetahui latar belakang isu tersebut, kalian bisa setidaknya ‘menolong’ mereka untuk kembali ke jalan yang benar lewat ajaran agama, pendekatan sosiologis dan psikologis. Percayalah, aku mengamati dengan mata dan otakku sendiri, judgement kalian tidak akan berpengaruh positif terhadap para pelaku LGBT. Malah, karena mereka menganggap diri mereka adalah minoritas, mereka jadi gencar memperjuangkan hak mereka. Selain itu, dari segi psikologis, apa yang kalian lakukan akan mengganggu kondisi mental mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka akan merasa tidak mendapat pengakuan sosial–padahal yang sesungguhnya tidak kita akui adalah apa yang mereka lakukan, bukan diri mereka sendiri sebagai individu. Aku bukan ahli disini, tapi aku punya beberapa kenalan yang menjadi pelaku atau mendukung LGBT, dan aku memandang dari tengah-tengah pro dan kontra agar dapat objektif.

Terakhir, tulisan ini bukan semata-mata sebagai bentuk dukungan bagi sahabatku maupun para pelaku LGBT. Aku tidak akan menjadi pihak netral, tapi aku berusaha objektif, cover both side kalau menurut ilmu Jurnalistik. Memang LGBT adalah salah, tapi yang lebih salah adalah pola pikir stereotip yang anti akan hal-hal yang bahkan belum diketahui secara mendalam. Bangsa yang maju adalah bangsa yang pemikirannya terbuka; pantas saja bangsa kita cuma bisa berkembang. Aku cinta Indonesia dan segala hal tentangnya, jadi tolong jangan merusak citra negeri ini dengan stereotip dan rasa jijik kalian. Selamat malam.

Shiragami Aiko

Advertisements

2 thoughts on “Stop Stereotip!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s