Bersyukurlah

Bersyukurlah kalian yang sekolahnya bobrok,
sebab artinya kalian dapat menghargai pendidikan seakan ia adalah intan di antara pasir-pasir hitam.
Berbanggalah kalian yang harus bersusah payah hanya demi sampai ke sekolah,
sebab artinya kalian tahu bagaimana sesungguhnya pendidikan harus diperjuangkan.
Berbahagialah kalian yang putus sekolah,
sebab kalian akan mengerti betapa institusi formal yang disebut ‘sekolah’ itu kini hanyalah penjara yang menguras tenaga dan materi kalian.
Bersyukurlah para pengajar yang rela bertugas di pelosok, di sekolah minim fasilitas dan tak digaji,
sebab artinya anda sekalian telah mencapai titel ‘guru’ yang sebenarnya, yang berbagi ilmu dan bukannya mengajar, apalagi meminta bayaran.
Bersyukurlah kalian yang harus mencatat berbagai hal dalam selembar kertas, tanpa memiliki buku satupun,
karena kalian akan mengingat apa yang seharusnya diingat.
Bersenanglah kalian yang penasaran,
karena kalian akan menemukan banyak hal yang dapat disyukuri dalam hidup.
Bersyukurlah kalian yang hidupnya susah,
sebab kalian telah menjalani makna hidup yang sebenarnya.
Bersyukurlah kalian yang keadaan keluarganya tidak baik,
karena kalian akan sadar betapa berharganya arti sebuah keluarga.
Bersyukurlah kalian yang kehilangan,
sebab kalian dapat menghargai apa yang kalian pernah dan masih miliki.
Berbahagialah kalian, orang-orang baik dan biasa, yang telah pergi mendahului kami,
karena Tuhan begitu menyayangi kalian hingga Ia tak bisa terus-menerus membiarkan kalian terjebak dalam kebobrokan mental dunia fana ini.

Sesungguhnya, aku iri pada kalian,
yang sekolahnya rusak berat, kekurangan fasilitas, jauh dari jangkauan listrik dan sinyal, serta hanya bermodalkan tenaga pengajar sukarela;
karena suatu hari nanti, saat kalian telah beranjak dewasa dan jadi orang sukses
–ya, aku yakin kalian akan menjadi manusia tersukses yang pernah kuketahui–
kalian akan punya sesuatu yang bisa diceritakan tanpa ada habisnya pada orang lain.
Kalian akan menyadari bahwa ilmu-ilmu yang kalian catat seadanya itu telah menempel erat di otak kalian;
tidak seperti ilmu yang menempel pada Ms. Word di gadget yang sering kami pegang.
Kalian akan menyadari betapa kaya kalian oleh makna hidup,
bukan kaya oleh materi.
Kalian akan ketagihan mencari pengetahuan,
bukan ketagihan mencari mall serta tempat hangout yang belum dikunjungi.
Kalian akan berpetualang dalam luasnya hidup,
bukannya berpetualang dalam rimba cinta yang menyesatkan.
Kalian akan diajar oleh mereka yang menghargai kejujuran,
bukan oleh mereka yang memberi harga pada ‘kejujuran’ palsu.

Maka,
bersyukurlah.

Bandung, 25 November 2014 a.k.a satu tahun yang lalu.

Shiragami Aiko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s