Kisah Nona yang Malang

/1/
Nona merindu akan lampaunya.
Pulanglah ia ke haribaan pondoknya yang kokoh, dingin.
Ia sambangi tanah tempatnya bertumbuh, penuh cinta.
Tiap jengkal ruang hendak disentuhnya;
tiap menit, detik, milidetik penuh kenangan.
Namun celaka, Nona kedapatan.
Mentah ia dihardik oleh tuan tanah; bapaknya sendiri.
(Atau, pernah jadi bapaknya?)
“Mau apa kau datang kemari?!”
Satu langkah mundur, bapak naik pitam.
“Keluar! Tak berhak kau ada di sini!”
Dua langkah mundur, lalu berbalik, lari.
Nona yang malang terbirit moratmarit;
sukmanya pedih bukan kepalang.
Nona yang malang tercampakkan
dari tanahnya sendiri.

/2/
Nona tersedu di balik rindang pohon.
Ya, memang pernah benci ia pada bapak yang picik itu;
namun siang ini, dendamnya telah lewat ambang kulminasi.
Teganya pria gendut itu mengusirnya dari buminya sendiri!
Jangan sendu, Nona, kau kuat.
Dia bukan bapakmu lagi, Nona, tak usah risau.
Jangan sedih, Nona.
Pulanglah seperti seharusnya,
pulanglah…
Biar semesta mendampingimu.

Bandung, 29 Januari 2016

Shiragami Aiko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s