Antara Protes dan Kemanusiaan (Secuil Racauan)

Sudah lama sekali sejak terakhir aku menulis di situs ini. Kali ini yang mendorongku untuk menulis adalah sebuah kejadian yang agak membuat emosi.

(Oke, mungkin ’emosi’ terdengar agak berlebihan, tapi memang begitulah adanya.)

Seakan bukan hal yang baru apabila mendengar kabar terjadinya hal-hal besar di Jakarta. Kali ini, kejadian yang menarik perhatian sebagian besar masyarakat—netizen, lebih tepatnya—adalah aksi demo yang dilakukan dalam rangka menuntut ditutupnya jasa transportasi online oleh para supir taksi konvensional.

Sebenarnya hal tersebut tidak akan terlalu menjadi sorotan massa seandainya tidak dilakukan dengan cara pemogokan di tengah jalan dan aksi anarkis lainnya. Sayangnya, kegiatan rusak-merusak sepertinya telah membudaya di negara ini. Menurut berbagai sumber, para supir taksi yang berdemo ini juga kedapatan memukuli supir-supir transportasi online seperti (sebut saja) ojek online G serta merusak kendaraan taksi lainnya yang tidak ikut berdemo. Para pengemudi taksi yang kendaraannya dirusak ini juga dipaksa untuk memprotes dan penumpangnya dipaksa turun begitu saja di tengah jalan raya Jakarta. Ini menimbulkan kemacetan parah di ruas jalan utama Jakarta serta adanya korban luka.

Mari jujur kepada diri sendiri bahwa tindakan di atas sudah kelewatan dan membuat prihatin. Adalah hak semua orang untuk dapat menyampaikan aspirasi dan berdemo, namun menjadi hak semua orang juga untuk tidak ikut terlibat serta menjaga keselamatan diri mereka dan tiba di tempat tujuan dengan selamat.

Memang, sebenarnya bisnis transportasi online ini menjadi kontroversi karena negara kita belum memiliki regulasi yang jelas mengenainya. Dan memang, menjamurnya bisnis praktis ini sedikit-banyak akan berdampak kepada para penyedia jasa transportasi konvensional. Namun kembali lagi; apakah alasan-alasan tersebut dapat dijadikan pembenaran atas perlakuan anarkis dan mengganggu ketertiban umum, apalagi hingga menyebabkan timbulnya korban? Apakah dengan memukuli pengemudi G dan memaksa sesama supir taksi untuk berdemo dapat membuat keadaan menjadi lebih kondusif? Malah, aksi brutal ini dapat menurunkan citra perusahaan taksi yang membawahi para pelaku; pelanggan akan enggan menggunakan jasa transportasi yang bersangkutan karena takut akan adanya kejadian serupa dengan hari ini. Pelanggan akan takut, apabila mereka memilih taksi atau ojek konvensional, mereka juga akan menjadi target amukan pendemo. Maka mereka akan beralih menggunakan jasa transportasi online karena lebih praktis, efektif, tarif lebih murah, dan lebih aman. Lantas, apa gunanya demo-demo itu, kalau begitu?

Jika boleh berspekulasi sedikit, hal-hal semacam ini biasanya terjadi akibat adanya provokator. Bisa jadi ada pihak-pihak tertentu yang memanas-manasi para pengemudi taksi konvensional untuk berunjuk rasa serta melakukan tindak kekerasan dengan dalih “hak mereka terampas” dan “mereka harus mengembalikan hak tersebut”. Bukan tidak mungkin pula, setiap supir taksi harus memaksa rekan-rekan sejawat mereka untuk melakukan hal yang sama atas nama ‘persatuan’ dan ‘rasa solidaritas’. Karena itu, barangkali akan lebih tepat jika polisi membongkar siapa dalang yang memprovokasi dan menggerakkan para supir taksi ini.

Pada akhirnya, perlu diperjelas bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membela salah satu pihak; tulisan ini mengajak pembaca untuk memikirkan banyak cara lain yang sekiranya lebih pantas untuk ditempuh dalam melancarkan protes, ketimbang merusak dan melukai sesama manusia. Kita manusia, kan? Lantas kenapa bertindak liar seperti binatang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s