Maka Tuhan pun Mati…

Alkisah, Tuhan yang Maha Esa ada. Ia menciptakan umat manusia serta tempat tinggal yang lebih dari layak bagi mereka. Ia mencintai mereka; Ia cinta ketika dunia berada dalam situasi damai dan orang-orang saling menyayangi. Manusia pun mencintai Tuhan sebagai sang Pencipta. Mereka memuja-Nya murni dari hati yang diciptakan oleh-Nya.

Tapi kemudian, waktu berjalan. Sang ciptaan pun menjadi fanatik. Mereka berulah. Mereka berpolitik dan menciptakan berbagai partai yang mereka namai ‘agama’ sebagai bentuk rasa ‘cinta’ mereka terhadap Tuhan.

Manusia beragenda, berpolitik dengan partai ‘agama’ mereka. Mereka berusaha menarik sesama manusia untuk bergabung dengan partai-partai itu dengan imbalan ‘pahala’ dan ancaman ‘dosa’; jaminan ‘surga’ dan teror ‘neraka’. Maka manusia yang ketakutan dan menginginkan keuntungan pun masuk ke dalam partai-partai itu. Mereka menjalin jaringan politik. Mereka menyembah ‘Tuhan’ atas dasar motivasi untuk masuk surga dan menghindari neraka. Mereka membuat kepercayaan bahwa Tuhan hanya mencintai satu dari partai-partai ‘agama’ tersebut, dan yang lainnya adalah ‘mereka yang dibenci oleh Tuhan’, menurut daulat mereka.

Tentu saja terjadi kekacauan di muka Bumi. Setiap wakil partai berperang atas nama ‘cinta’ kepada Tuhan. Setiap anggota partai membunuh saudaranya sesama manusia hanya karena mereka percaya pada agama yang berbeda. Setiap partai merasa superior dan paling dicintai oleh Tuhan. Setiap orang mengklaim bahwa ‘Tuhan’nyalah yang paling benar. Manusia menjadi terobsesi dan merasa dirinyalah yang paling mengetahui Tuhan.

Dunia membara oleh kebencian, dan Tuhan mulai mati.

Manusia masih memuja Tuhan, namun hatinya kosong. Manusia masih beribadah, namun sebagai kewajiban semata. Manusia menolong satu sama lain demi pencitraan di mata Tuhan saja. Manusia berdoa agar tak masuk neraka. Manusia berkata bahwa mereka mencintai Tuhan, namun sesungguhnya mereka hanya mencintai apa yang telah Tuhan karuniai. Manusia mulai lupa bersyukur dan ingat mengeluh. Manusia sibuk membuat partainya unggul dan mengingkari kenyataan bahwa Tuhan mencintai mereka semua tanpa kecuali.

Mereka mulai membunuh Tuhan.

Mereka membunuh Tuhan dan menciptakan ‘Tuhan’ baru, ‘Tuhan’ menurut kepercayaan mereka masing-masing, dengan nama dan panggilan yang berbeda-beda. Tidak ada lagi persatuan. Manusia terpecah. Dunia bukan milik Tuhan lagi, begitupun manusia.

Maka Tuhan pun mati dari hati mereka…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s