#NyalaUntukYuyun: Stop Playing Victim!

Sepertinya dunia memang sedang mengalami krisis moral. Ketika manusia–yang katanya lebih beradab dari binatang–justru berlaku jauh lebih biadab. Ketika manusia malah bertingkah hewani sedangkan binatang justru dapat lebih manusiawi ketimbang manusia itu sendiri.
Sejenak, mari kita berdoa untuk YY (14), seorang siswi SMP yang mesti tewas secara mengenaskan setelah diperkosa dan dibuang di hutan oleh 14 orang pria tak tahu diri yang malah tertawa ketika diinterogasi petugas terkait perbuatan keji yang mereka lakukan. Tentu tidak semua manusia–laki-laki, khususnya–yang sebejat itu, namun tindakan mereka menunjukkan seberapa jauh manusia dapat menjadi lebih liar dibanding hewan manapun di dunia.
Bukan hanya itu yang hendak dibahas pada tulisan kali ini. Menggarisbawahi kata ‘pemerkosaan’, ada banyak perdebatan yang melingkupinya. Salah satunya adalah opini yang menyatakan bahwa, “Kalau diperkosa, nikmati saja.” Tidakkah itu gila? ‘Diperkosa’ dan ‘berhubungan seks’ (secara umum, mengesampingkan legalitasnya) adalah dua hal yang jauh berbeda. Pemerkosaan adalah kasus ketika salah satu pihak dipaksa berhubungan intim di luar kemauannya. Bagaimana bisa hal seperti itu dinikmati? Apalagi–meminjam kasus YY–hal tersebut dilakukan oleh belasan orang lelaki terhadap seorang gadis belia yang bahkan belum berusia 17 tahun. Bagi orang-orang yang memegang prinsip tersebut, juga bagi mereka yang mewajarkan tindakan bejat tersebut, kalian lebih hewani ketimbang hewan itu sendiri.
Ada pula yang berpendapat bahwa pakaian yang dikenakanlah (khususnya bagi wanita) yang kemudian memicu tindak pelecehan hingga pemerkosaan. Perempuan yang sering pulang malam juga sering dikatakan sebagai pemicunya. Hal tersebut bisa dibilang ada benarnya, namun untuk menjadikannya sebagai ‘pembenaran’ atas kasus pelecehan dan pemerkosaan jelas tidak tepat. Mari bicara soal perempuan, karena mereka yang paling rentan terkena tindak pelecehan. Apakah perempuan yang berpakaian tertutup lantas menjadi kebal terhadap hal-hal seperti itu? Faktanya tidak. Buktinya, masih banyak wanita berhijab, bercadar, atau berbaju panjang yang dilecehkan baik secara verbal maupun nonverbal. Kenapa bisa seperti itu padahal mereka sudah menutup tubuh mereka? Ternyata ada beberapa oknum yang justru terangsang nafsunya ketika melihat wanita dengan pakaian tertutup karena ‘penasaran’. Apakah perempuan yang tidak pulang malam lantas lebih aman? Tidak. Pelecehan dan pemerkosaan dapat terjadi dari pagi hingga malam; dunia tidak hanya berbahaya di malam hari. Dan mari kita tengok YY; apakah ia mengenakan pakaian mini ketika tragedi naas itu terjadi? Tidak, dia mengenakan seragam SMP seperti biasa. Apakah dia pulang malam atau mabuk? Jelas tidak, dia baru saja pulang dari sekolahnya di siang hari dan tentu saja tidak mabuk; para pelaku yang mabuklah yang melimpahkan nafsu mereka pada YY yang malang. Jadi, pakaian dan waktu-waktu tertentu tidak bisa disebut sebagai alasan utama terjadinya kasus pemerkosaan (walaupun tentu saja mengenakan pakaian terbuka akan jauh lebih banyak mengundang syahwat).
Maka ada kemungkinan lain yang dapat menjadi alasan terjadinya tindakan seperti ini: nafsu. Sayangnya, jarang ada yang membahas alasan yang satu ini (mungkin karena mereka hendak mengingkari fakta bahwa mereka pun pernah setidak-tidaknya dikuasai nafsu demikian). Pakaian tertutup dan perilaku baik-baik bukanlah apa-apa ketika nafsu menguasai diri manusia. Demi kepuasan sementara itulah manusia merasa tindakan memperkosa bocah SMP merupakan hal yang wajar dan benar. Demi merealisasikan halusinasi bejat itulah manusia merasa pelecehan terhadap wanita–berhijab atau tidak–merupakan hal yang sah. Dan ketika mereka disalahkan, mereka membela diri dengan melimpahkan kesalahan kepada korban, berdalih bahwa, “Korban mengenakan pakaian yang mengundang nafsu,” “Korban menggoda terlebih dahulu,” atau, “Korban terlalu cantik / tampan atau seksi.” Maaf, tapi menjadi tampan, cantik, atau seksi sama sekali tidak relevan dengan terjadinya pemerkosaan, apalagi jika urusannya mengenai ‘nafsu’. Apakah kemudian kesalahan ada pada orang yang berbadan ideal sedangkan pelaku yang tidak dapat mengontrol syahwatnya bisa dibenarkan? Tentu tidak.
Satu hal lagi yang cukup menyedihkan–kalau tidak ironis–yakni candaan tentang pemerkosaan. Sumpah, kawan, tidak ada hal yang lucu dari lawakan tentang pemerkosaan. Masih banyak hal berkualitas lainnya yang bisa dijadikan bahan tertawaan ketimbang hal-hal seperti ini.
Akhir kata, tulisan ini didedikasikan untuk almarhumah YY dan seluruh perempuan di dunia yang masih sering menjadi objek seksualitas laki-laki. Mari proteksi diri, lindungi satu sama lain, tunjukkan bahwa wanita bukanlah benda pasif yang tak berdaya. Dan bagi para pria yang merasa wajar menjadikan wanita sebagai pelampiasan nafsu, mari belajar mengendalikan syahwat dan alat kelamin kalian. Kami bukan objek, kami manusia seperti halnya kalian. Kalian pun mestinya bukan binatang, kalian adalah manusia yang memiliki akal budi dan hati nurani.
#NyalaUntukYuyun #PrayForYuyun #YYadalahKita #WanitabukanObjek #StopPelecehanSeksual #StopKekerasanSeksual

Shiragami Aiko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s