16 Juni: Hidup dan Mati

Tanggal 16 Juni yang lalu, ibuku berulangtahun. Entah yang keberapa; pokoknya, hari itu adalah hari ulang tahun beliau. Mengingat bahwa saat ini kami masih menjalankan puasa, maka diputuskanlah kalau kue yang kubeli sehari sebelumnya akan disajikan pada saat sahur. Semua berjalan lancar, kecuali saat Ayah meledekku karena aku memotong kuenya duluan—jangan salahkan aku, kue tersebut tampak lezat. Sahur di hari itu menjadi momen yang membahagiakan.

Seharusnya.

Tidak kurang dari 15 menit setelah acara potong kue, Ibu mendapat telepon dari salah satu saudaraku. Dari hasil menguping yang kulakukan, kudengar bahwa pamanku—kakak ayahku—mendadak dilarikan ke rumah sakit pada pukul 1 pagi akibat serangan jantung. Saat kabar itu tiba di telinga kami, jam menunjukkan pukul 4 pagi. Sirene imsak belum terdengar. Aku memutuskan untuk menutup sahurku dengan segelas air mineral lalu beranjak kembali ke ruanganku, berusaha untuk tidur (dan gagal karena, biasa, distraksi ponsel).

Pukul 5 pagi, Ayah masuk ke kamarku.

Pamanku telah meninggal dunia.

Aku hanya menatap Ayah dengan tidak percaya tanpa berkata apapun. Aku tahu riwayat kesehatan pamanku, dan aku tahu dia memang mengidap penyakit jantung. Tapi aku juga tahu kalau belakangan ini kondisinya justru lebih baik ketimbang beberapa bulan sebelumnya.

Setelah sedikit berbincang dengan Ayah—mendiskusikan apakah sebaiknya aku tinggal di rumah saja atau boleh bepergian hari itu dan sebagainya—beliau pun pergi melayat bersama Ibu. Aku mendekam di kamarku, berpikir.

Di satu sisi, kejadian itu lucu bagiku. Ketika satu orang sedang bersukacita merayakan hari kelahirannya, satu orang yang lain baru saja habis masa hidupnya. Aku baru sadar, ternyata kehidupan dan kematian sebenarnya selalu berdampingan; hanya saja, kita jarang berada dalam momen ketika keduanya hadir di saat bersamaan (atau pernah, barangkali, namun kita tidak cukup peka untuk menyadarinya). Biasanya kita terlalu gembira mengetahui bahwa kita lahir di dunia ini atau terlalu berduka saat tahu bahwa kehidupan kita sudah berakhir.

Ada pula beberapa orang yang meninggal tepat pada saat mereka semestinya merayakan hari kelahiran mereka. Aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya. Apakah mati di tanggal dan bulan yang sama ketika mereka lahir akan terasa lebih bahagia? Menyenangkan? Atau menyedihkan? Bagaimana pula rasanya bagi orang-orang terdekat mereka?

Aku tidak tahu harus menulis apa lagi (lebih tepatnya, aku lupa). Yang jelas, kejadian ini menyadarkanku kalau sebenarnya kematian sudah mendampingi kehidupan kita sejak lama. Mungkin kematian akan menggantikan peran kehidupanku esok hari? Atau beberapa jam setelah ini? Entahlah.

Advertisements

3 thoughts on “16 Juni: Hidup dan Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s