Hewan Manusiawi

Sebenarnya, ini draf lama yang kusimpan sejak kira-kira bulan Februari yang lalu. Aku lupa mengunggah catatan ini (atau mungkin karena catatan ini menurutku tidak menarik kala itu), jadi tampaknya belum terlambat jika aku berbagi kisah kecil ini sekarang. Selamat membaca.
. . . . . .
​Hari ini hujan besar mengguyur Bandung. Aku baru saja pulang dari kampus, dibonceng menggunakan sepeda motor oleh ayahku. Setibanya kami di rumah, aku mendapati empat ekor kucing sedang tidur dan berteduh di atas sepeda motor milik supir ibuku. Dua di antaranya merupakan kucing kecil—Bewe (karena warna bulunya hitam-putih atau black and white) dan Abu—sementara dua lainnya merupakan kucing dewasa yang kunamai Belang dan Putih secara sepihak, tanpa persetujuan mereka. Aku tidak asing dengan mereka karena setiap hari mereka selalu datang ke rumahku untuk meminta jatah makanan.

Begitu mendengar suara motor yang memasuki halaman rumah, semuanya—kecuali Bewe, yang masih tertidur pulas—langsung berhamburan turun dari jok motor. Belang berkeliling di sekitar motor supir, Putih pergi ke luar rumah, dan Abu menghilang entah ke mana. Kutaruh tasku sebentar di dalam rumah, lalu aku kembali menghampiri keempat kucing itu. Aku pun duduk di depan pintu, memandangi mereka dalam diam. Belang balas menatapku. Yang lainnya acuh.

Kuambil ponselku (yang sudah hampir habis baterainya), kunyalakan fitur kamera, lalu kuhabiskan waktu (dan bateraiku) untuk memotret mereka. Abu yang mungil kemudian duduk di bawah sepeda motorku yang baru saja dipakai, masih hangat. Ia terlihat menikmati kehangatan itu karena tidak lama kemudian ia tertidur. Putih melompat naik kembali ke sebelah Bewe, mengawasi sekitarnya. Belang menyusul kemudian; ia bergelung di sebelah Bewe, yang terbangun sejenak. Belang dengan sayang menjilati Bewe, seakan mengusap-usapnya untuk kembali tidur. Abu pun terbangun dari tempatnya semula dan mulai mengelilingi motor supir yang ‘dikuasai’ oleh anggota keluarganya, mendongak ke atas. Sepertinya ia sedang mencari celah untuk dapat bergabung di atas sana. Akhirnya Belang bergeser sedikit dan Abu pun melompat naik. Ia duduk sebentar, ikut mengawasi lingkungan sekitarnya bersama dengan Putih, lalu bergelung di antara Bewe dan Belang. Tidak lama setelahnya, ia kembali bangkit dan pindah ke tengah-tengah Bewe dan Putih. Ia pun menyandarkan dagunya di antara lekukan leher Bewe—terlihat seakan-akan ia sedang memeluk Bewe dari belakang. Mereka pun mulai tertidur lelap, satu per satu.

Lima belas menit kuhabiskan hanya untuk memperhatikan gerak-gerik kucing-kucing itu, dan aku sama sekali tidak menyesal. Aku selalu punya tempat khusus bagi makhluk hidup bernama kucing di dalam hatiku. Bagiku, terkadang mereka malah lebih ‘manusiawi’ daripada manusia sendiri. Apa yang dilakukan oleh keluarga Bewe itu mengingatkanku pada sebuah keluarga kecil manusia yang terdiri dari seorang ibu, seorang ayah, dan dua orang anak—satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Tipikal Keluarga Berencana (KB). Seorang ibu yang memanjakan anak-anaknya agar tetap dapat tertidur lelap. Seorang ayah yang menjaga keluarganya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Seorang kakak yang dengan sayang memeluk adiknya yang kedinginan. Tidakkah hal-hal itu yang (mestinya) biasa terlihat pada manusia?

Aku bersyukur karena hewan tidak dapat mengoperasikan gadget, jadi kehidupan mereka tidak terintervensi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s