‘Eksis’ dan ‘Hits’, (Sudah) Benarkah?

Cie, eksis nih, ye!

Foto di tempat A yuk, biar hits kayak ‘awkarin’.

“Alah, numpang tenar aja kan lo, biar kecipratan eksis?

Pernah mendengar kata-kata di atas? Pasti dan seharusnya pernah. Ada dua kata kunci yang akan dibahas dalam tulisan ini (tapi bukan awkarin, yang jelas): ‘eksis’ dan ‘hits’. Kenapa? Ada apa dengan kedua kata yang sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari itu? Mari kita ulas lebih lanjut.

Tampaknya anak-anak muda zaman sekarang sudah sangat familiar dengan kata ‘eksis’, bukan? Kata tersebut diidentikkan dengan ‘tenar’ dan ‘kekinian’. Memiliki angka followers Instagram setara dengan nominal untuk membeli sebatang cokelat dapat dilabeli ‘eksis’. Berteman dengan para selebrita sosial media, kita turut ‘eksis’. Beropini dan mengkritik (atau menjelek-jelekkan) seorang terkenal, dituduh ‘sok eksis’. Eksis, eksis, eksis! Meski sudah sangat akrab di telinga, tapi tidakkah sebenarnya kata ini mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan? Kalau dilihat kembali, ‘eksis’ berasal dari kata ‘exist’ (Bahasa Inggris) yang berarti ‘ada’. Lebih jelasnya, menurut dictionary.com, definisi dari ‘exist’ atau ‘eksis’ yang merupakan verb without object (kata kerja tanpa objek) adalah:

  1. To have actual being; be. (Menjadi; ada.)
  2. To have life or animation; live. (Kehidupan; hidup.)
  3. To continue to be or live. (Melanjutkan keberadaan atau kehidupan.)
  4. To have being in a specified place or under certain conditions; be found; occur. (Ada di tempat atau di bawah kondisi tertentu; ditemukan; terjadi.)
  5. To achieve the basic needs of existence, as food and shelter. (Mencapai kebutuhan dasar eksistensi, seperti makanan dan tempat berlindung.)

Apakah ada satu dari sekian pengertian tersebut yang mendekati pemaknaan kita terhadap ‘eksis’ saat ini? Sayang, sepertinya tidak ada. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun hanya ada kata ‘eksistensi’ yang berarti, “n hal berada; keberadaan, kehadiran, presensi.” Kesimpulannya, ‘eksis’ berarti ‘ada’. Toh, kutipan terkenal Descartes yang berbunyi, “Cogito, ergo Sum (I think, therefore I exist)” punya arti, “Aku berpikir, maka aku ada,” bukan, “Aku berpikir, maka aku tenar.”

Bagaimana dengan ‘hits’? Masih berasal dari Bahasa Inggris dengan kata dasar ‘hit’, beberapa pengertian yang relevan dengan topik ini adalah sebagai berikut:

  1. To succeed in striking.
  2. To have a marked effect or influence on; affect severely.
  3. To be published in or released to; appear in.
  4. To agree with; suit exactly.
  5. A successful stroke, performance, or production; success.

Kata ‘hits’ sebagai slang word dalam pergaulan mulai sering terdengar lewat perkembangan industri hiburan dan budaya modern yang kerap ditampilkan oleh media. “Musik ‘hits’ minggu ini,” misalnya, berarti daftar musik pilihan yang sedang sukses-suksesnya di pekan tersebut. Waktu bergulir, kata ini pun mulai mengalami pergeseran makna seperti halnya ‘eksis’; hingga muncullah istilah-istilah seperti, “Tempat nongkrong paling ‘hits’ se-Bandung Raya,” “Geng ‘hits’,” dan lain sebagainya. Pada akhirnya, kata ‘hits’ identik dengan ‘populer’, ‘terkenal’, atau (lagi-lagi) ‘kekinian’.

Lantas, kenapa mesti dipermasalahkan?

Tidak begitu mempermasalahkan juga, sih. Namanya juga kata-kata selentingan; barangkali orang-orang menggunakan kedua kata yang telah beralih makna tersebut karena terpengaruh budaya populer saja. Atau mungkin karena mereka tidak tahu kata-kata yang lebih santai namun sepadan dengan makna baru kedua kata tadi. Atau mungkin karena mereka memang tidak tahu kalau keduanya sebetulnya tidak memiliki arti yang sama dengan anggapan mereka—dengan kata lain, mereka asal pakai kata saja, biar ‘gaul’. Ups. Tapi kalau boleh agak serius soal ini, pergeseran makna kata seharusnya disadari oleh kebanyakan (kalau tidak semua) orang. Ketika ada yang mencetus, “Ih, kamu sok eksis!,” atau, “Aku mau melakukan A, biar eksis,” kedua pernyataan tersebut tidak sah secara etimologis. Kita kan memang sudah eksis (ada), ngapain pakai sok-sokan segala? Atau misalnya contoh lain: si Karin ‘awkarin’ (lagi…) yang terkenal itu dipandang sebagai sosok yang eksis. Masalahnya, bukan hanya Karin yang eksis di sini—kita semua juga eksis. Kita berwujud, kita berpikir (seperti kata mas Descartes); kita ada. Jadi kata ‘eksis’ yang dipadukan dengan ‘sok’ atau ‘tidak’ atau ‘banget’ tidak bisa dijadikan sebagai sebuah tuduhan selama belum menggunakan logika bahasa yang baik dan benar. Asyik.

Pada akhirnya, kita memang harus mulai membudayakan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Gaul boleh, bodoh jangan. Minimal kita tahu makna kata dan menguasai perbendaharaan kata yang cukup agar dapat tetap bersosialisasi sambil mengikuti tren namun tetap cerdas pula. Ingat, kita semua bisa hits dengan kesuksesan kita masing-masing. Kita semua eksis tanpa kecuali. Kita ada, kita hidup. Kalau ada yang bilang kamu nggak eksis, berarti jangan-jangan mereka kira kamu hantu. Lho

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s