23:34

Setiap orang hidup dalam situasi yang berbeda-beda.

Ada yang tak merasa cukup menjadi manusia sibuk.

Ada yang sampai sujud-sujud diberi bungkusan nasi aking dan sisa lauk.

Ada yang taruh investasi rumah ini-anu, di Jakarta, LA, Makau, sampai antah-barantah.

Ada yang ketawa-ketiwi bersama seorang istri dan lima orang anak di luar sebuah gerobak; mereka sebut itu ‘rumah’.

Ada yang lelah membaca lembar-lembar tipis buku.

Ada yang melahap lima buku dalam sehari bak shalat fardhu.

Ada yang ingin mati.

Ada yang mati-matian berusaha tetap hidup.

Ada yang banting tulang demi tunjangan keluarga.

Ada yang banting tulang kabur dari diri sendiri.

Ada yang geram punya GPA 3.99

Ada yang terharu mendapat IPK 1.99

Ada yang ingin memanjat tangga prestasi seperti yang lainnya.

Ada yang merasa dirinya bahkan tak punya kaki untuk menginjak anak-anak tangga itu.

Ada yang ingin teriak.

Ada yang ingin diam.

Ada yang ingin mampu berpikir tak melulu jadi sosialita kebanyakan.

Ada yang lelah berpikir karena bom molotov jutaan kali meledak dalam kepala.

Ada yang ingin waras.

Ada yang ingin gila.

Ada yang ingin hidup damai.

Ada yang ingin hidup dari membantai.

Tapi tidak ada yang bersyukur.

Dan ada yang mampus kesal karena manusia kufur syukur.

Mungkin Tuhan, jika Ia bisa kesal.

“Nak, ucap terima kasih saja, susah betul! Giliran sulit, bisa kau kicau keluh sana-sini.”

Ah, andai Tuhan bisa menghardik.

“Penuhilah dulu hidup kau, baru minta yang baru.”

Ah, andai manusia bisa mendengar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s