Selamat, Toleransi Kini Sekarat!

af7fe9db843a45acf9ba2b8a10b72e2f.jpg

Tuhan, maafkan mereka yang telah coba membunuhmu.

___
Ini bukan pertama kalinya pembangunan rumah ibadah mendapat pertentangan di Indonesia. Nyatanya, Nusantara dengan penduduk beragama Islam (87.18%), Kristen (6.96%), Katolik (2.91%), dll. ini tak lepas dari bentrok berbau SARA. Yang lebih menyedihkan lagi, kebanyakan aksi diinisiasi oleh satu atau dua kelompok agama dengan persentase tertinggi seperti yang bisa dilihat sebelumnya. Seegois itukah manusia sampai jumlahnya yang mendominasi tidak cukup untuk belajar tentang toleransi dan solidaritas di tengah perbedaan?

Saya orang Islam–paling tidak, saya dibacakan adzan saat lahir dan mengisi kolom ‘Agama’ di KTP saya dengan kata ‘Islam’–dan saya malu. Sangat malu dengan adab yang ditunjukkan oleh sekumpulan orang bergamis, berkopiah, berbaju serba-putih yang mengatasnamakan agama yang saya anut untuk menyerang agama lain. Saya tidak malu dengan Islam; saya malu ketika orang-orang berkata jelek tentang Islam karena, “Oh, itu agama yang senang cari ribut dengan agama lain, ya?” “Oh, itu yang umatnya jijik dengan yang selain mereka, ya?”

Begini: suka-suka anda, lah, mau cari ribut dengan siapa saja. Tapi kenapa tidak coba klarifikasi kebenaran info yang anda dengar terlebih dulu? Kenapa harus membawa agama? Kenapa anda sebagai manusia punya pola pikir yang begitu naif, begitu sempit? Kenapa harus mencerca yang berbeda? Kenapa harus mengatasnamakan Tuhan untuk dibela, padahal Tuhan terlalu Maha Kuasa untuk kita semua? Tuhan Yang Esa menciptakan semua manusia itu–yang Islam, yang Kristen, yang Mongoloid, yang Jawa, yang lain-lain. Kita punya nama julukan yang berbeda-beda untuk setiap orang, begitu pula dengan Tuhan. Kenapa mesti baku hantam soal Tuhan mana yang paling pantas ketika sesungguhnya Tuhan yang dibicarakan hanya satu??? Otak dan nurani kalian semua di mana, ‘manusia suci’? Ketinggalan di surga? Terselip di balik sorban dan janggut kalian?

Kalian bilang, komunisme dan sosialisme adalah bahaya laten. Komunisme memukul rata semua perbedaan, kan? Mereka ingin semua sama, kan, dengan meniadakan agama? Maka bukankah kalian telah bertindak sama persis seperti tahi anjing yang kalian hina habis-habisan itu; hanya agama kalian yang boleh aktif di negeri ini? Pikirkan: Tuhan tidak menciptakan kelebihan akal pada manusia untuk disia-siakan seperti ini. Benar juga, seharusnya Friedrich Nietzsche tidak datang terlalu cepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s