Siapa Pantas disebut (Non)Pribumi?

313. (Masih) sebuah aksi bertitel tanggal cantik demi memperjuangkan (katanya) keadilan.

Keadilan buat siapa, ya?

Tapi saya tidak ingin membahas lebih jauh mengenai filosofi aksi tersebut, karena hanya ada satu hal yang dapat saya simpulkan: “Ya, ya, orang-orang ini cuma mencari tanggal unik untuk menggelar jerit-jerit aspirasi a la-a la.” Tidak, tidak, saya lebih baik membahas salah satu episode unik di dalamnya.

Selalu ada yang menarik–memelatuk? Menggugah? Memanaskan suasana?–dalam setiap aksi berseri ini, mulai dari isu rasial, penyinggungan terhadap kelompok agama minoritas, hingga yang baru saja terjadi dalam 313 ini: penyebutan soal ‘pribumi’. Sekelompok orang, disinyalir dari satu kelompok agama besar dengan identitas berupa busana dan gaya bicara mereka, melabeli siapa-siapa saja yang mereka anggap sebagai ‘pribumi’ dan tidak boleh diusik.

Nah, sekarang saya punya pertanyaan: siapa pantas disebut pribumi?

Mari kita buka situs eksplanasi (konon) terpercaya, Wikipedia. Menurut Wikipedia, ‘pribumi’ atau ‘pribumi-Nusantara‘ adalah: “kelompok penduduk di Indonesia yang berbagi warisan sosial budaya yang sama dan dianggap sebagai penduduk asli Indonesia.” Lebih lanjut soal latar belakang munculnya istilah tersebut:

Selama masa kolonial, Belanda menanamkan sebuah rezim segregasi (pemisahan) rasial tiga tingkat; ras kelas pertama adalah “Europeanen” (“Eropa” kulit putih); ras kelas kedua adalah “Vreemde Oosterlingen” (“Timur Asing”) yang meliputi orang Tionghoa, Arab, India maupun non-Eropa lain; dan ras kelas ketiga adalah “Inlander”, yang kemudian diterjemahkan menjadi “Pribumi”. Sistem ini sangat mirip dengan sistem politik di Afrika Selatan di bawah apartheid, yang melarang lingkungan antar-ras (“wet van wijkenstelsel”) dan interaksi antar-ras yang dibatasi oleh hukum “passenstelsel”. Pada akhir abad ke-19 Pribumi-Nusantara seringkali disebut dengan istilah Indonesiërs (“Orang Indonesia”).

Jadi, sudah melihat apa yang saya lihat? Belum? Kalau begitu, izinkan saya memperjelas sudut pandang saya:

  1. Pribumi adalah orang-orang yang dianggap sebagai penduduk asli Indonesia karena berbagi warisan sosial budaya yang sama (barangkali seperti bahasa daerah, nilai-nilai kemanusiaan, seni, dll.)
  2. Pribumi adalah istilah yang diberikan oleh bangsa Belanda saat menjajah Indonesia untuk memisahkan antara penduduk lokal dengan para pendatang–pedagang, pemuka agama, dan bangsa penjajah sendiri.
  3. Pribumi merupakan istilah yang ditanamkan oleh Belanda sebagai rezim pemisahan rasial antara tiga kasta ras yang mendiami Nusantara–dengan kata lain, pribumi merupakan PENGGOLONGAN DAN PERBEDAAN STRATA ANTARRAS. Lebih singkatnya, PRIBUMI MERUPAKAN ISTILAH DARI POLITIK BELANDA YANG BERSIFAT RASIS.
  4. Pengistilahan pribumi dalam kelas rasial ini setara dengan sistem politik Apartheid (politik warna kulit) di Afrika Selatan. Mengenai Apartheid sendiri, anda bisa mencari penjelasan dan sejarahnya di Internet.

Baik, itu sedikit tentang istilah ‘pribumi’ yang sampai dibuat labelnya tersebut. Saya ingin bertanya lagi: siapa sih anda–kita–sehingga berhak melabeli seseorang sebagai pribumi atau bukan?

Atau, mari kita buat ini menjadi lebih mudah. Apakah anda serta-merta menjadi pribumi atau bukan, dengan adanya stiker tersebut? Itu bisa anda jawab sendiri. Apakah orang-orang bermata sipit itu bukan pribumi? Bisa jadi bukan, saya akui, karena bangsa Tionghoa atau kaum etnis Sino-Tibetan datang ke Tanah Air Indonesia beberapa waktu setelah manusia Indonesia memiliki peradaban tersendiri berupa kerajaan di berbagai sudut Nusantara. Tapi apakah cuma bangsa Tionghoa yang bisa disebut non-pribumi? Tidak. Ada juga bangsa India dan Arab (dengan tujuan berdagang) dan Eropa (yang kebanyakan bertujuan menduduki Indonesia). Lalu, dengan anda mengenakan pakaian a la Timur Tengah dan membagikan stiker pribumi sambil menyerukan tuntutan pengganyangan non-pribumi, memangnya anda sendiri sudah pribumi?

Lagipula, kalau kita bersedia berpikir agak simpel, begini: seluruh penduduk Indonesia, sejak dulu dan sekarang, adalah pendatang. Mulai dari gelombang migrasi Homo Erectus asal Afrika yang menuju Nusantara 1,8 juta tahun yang lalu, hingga datangnya etnis Arab, India, dan Tionghoa. Kalau yang diklasifikasikan sebagai ‘pribumi modern (kelas Homo Sapiens) pertama di Indonesia’, berarti titel itu ditujukan untuk bangsa Melanesia di Papua. Maka saya lebih suka memberi dua pilihan: semua penduduk Indonesia adalah pribumi, atau tidak ada penduduk Indonesia yang pribumi.

Menurut saya, tidak ada yang pantas dikelompokkan sebagai pribumi atau non-pribumi. Tidak dengan pengistilahan bangsa Belanda itu, paling tidak.

Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin menyatakan betapa kecewanya saya karena ternyata politik rasial Belanda berhasil mengakarbumi dalam kepribadian orang Indonesia yang dijajahnya. Oh, oh, ternyata anda semua tidak ada bedanya dengan para meneer yang pernah mempekerjapaksakan nenek-moyang kita. Berarti anda sudah siap menjajah negara anda sendiri, ya? Selamat!

REFERENSI:

https://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi-Nusantara

https://www.zenius.net/blog/9016/asal-usul-orang-pribumi-indonesia

https://video.tempo.co/read/2017/02/01/5815/siapakah-sebenarnya-pribumi-indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s