Selamat Hari Intoleransi Nasional!

Memangnya tanggal berapa yang dimaksud?

Oh, ya. 20 Mei, yang juga dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Apa yang dibangkitkan pada tanggal tersebut?

Mari kita bertualang sedikit ke masa lalu. Mesin waktu berputar balik menuju tahun 1998, ketika Mei dipanaskan oleh semangat revolusi para pemuda dan mahasiswa yang lelah dengan orde presiden kedua (dan terlama) di Indonesia: Soeharto. Masa-masa menjelang 20 Mei 1998 menjadi titik balik dalam sejarah kepemimpinan bangsa ini, sebuah momentum ketika ratusan ribu pemuda menduduki Ibukota demi melengserkan seorang otoritarian dari singgasana kepresidenan. Pada tanggal tersebutlah, The Big Boss menyatakan bahwa ia resmi mundur dari jabatan Presiden, diiringi pekik sorak-sorai penuh haru dari pemuda-pemudi bangsa yang mendengarkan siaran langsung itu.

Nyaris dua dekade telah berlalu. Di bulan Mei ini, sekali lagi, berbagai momen mayor terjadi. Namun bukan raungan kebahagiaan yang terdengar; malah, isak tangis dan komat-kamit panik merebak.

Di bulan Mei ini, seorang Basuki Tjahaja Purnama divonis 2 tahun penjara atas laporan penistaan agama berkaitan dengan Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51.

Tapi sebaiknya pembahasan mengenai hukuman tersebut tidak diperluas. Bukan pada tempatnya membicarakan hal tersebut. Lagipula, penulis sendiri sangat awam terhadap urusan hukum Indonesia—selain pengetahuan dasar bahwa hukum di negara ini tumpul ke atas dan tajam ke bawah, juga membela yang bayar, juga sebegitu lemah dan rancu sehingga bagian Hak Asasi Manusia Persatuan Bangsa-Bangsa (HAM PBB atau UN Human Rights) meminta Indonesia untuk meninjau kembali hukum yang mengatur tentang penistaan melalui media sosial Twitter (dapat dicek di akun @OHCHRAsia). Ya, atur-atur saja lah, kebenaran hukum menurut negara berasaskan Bhinneka Tunggal Ika ini. Barangkali Pak Basuki memang bersalah dan pantas mendapatkan hukuman bui selama 2 tahun, barangkali ada miskomunikasi fatal di sini, barangkali justru beliaulah yang ternistakan oleh politik berkedok agama. Entahlah. Atau mungkin Pak Basuki dijatuhi vonis bui tersebut agar tidak terjadi lagi serial demonstrasi yang tingkat hiperboliknya setara dengan berbagai tayangan drama Korea Selatan itu? Tidak tertutup kemungkinan. Indonesia kan, memang negara yang ‘tidak enakan’. Pengorbanan satu pihak demi kepentingan pihak mayoritas mestinya tidak diperdebatkan, kan?

Tapi sudahlah, semua itu hanya spekulasi awam.

Tulisan ini juga tidak akan sepenuhnya didedikasikan untuk Pak Basuki. Tidak, ini bukan curahan-curahan sentimentil mengenai tingkah polah dan kinerja beliau (meskipun secara pribadi hal tersebut benar adanya). Toh, penulis tidak merasakan Ahok Effect secara langsung, hanya melalui media massa yang tentunya berbias

Tulisan ini disusun untuk kawan-kawan minoritas—terlepas dari pro-Ahok atau tidak.

Kenapa mesti dikaitkan dengan Hari Kebangkitan Nasional? Alasan utamanya, karena sungguh sebuah ironi ketika hari revolusioner ini justru menjadi saksi atas diskriminasi terbuka yang mulai berjalan di daerah sentral Indonesia, sebuah negara multikultural, multiras, dan multireligi. Slogan Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini terpampang gagah di antara kaki Garuda ternyata hanya tiga kata kosong minim aksi. Perbedaan yang selama ini dibanggakan oleh pemerintah ternyata hanya wacana citra yang menutupi realita bobrok di lapangan. Indonesia adalah negara lucu yang orang-orang beragamanya hobi berdemo, bahkan setelah tuduhan mereka terpenuhi. Indonesia adalah negara lucu yang orang-orang beragamanya tukang catut nama Tuhan. Indonesia adalah negara lucu yang masyarakat mayoritasnya tak terima kitab suci mereka diusik namun menuntut keadilan saat mereka dituduh mengganggu ketertiban penganut kepercayaan selain milik mereka. Indonesia adalah negara lucu yang membui seorang gubernur yang menyinggung kitab selain agamanya namun meloloskan para pejabat korup karena mereka mau bagi-bagi hasil dengan para sipir dan hakim. Indonesia adalah negara lucu yang tak maju-maju di tengah lemahnya demokrasi yang mereka anut.

Indonesia—seperti judul buku Tere Liye yang tidak menjadi favorit penulis—adalah Negeri Para Bedebah.

Bedebah konservatif dengan pola pikir sesempit sisa ruang di kamar kos. Bedebah beragama yang membunuh Tuhan. Bedebah bodoh yang mendiskreditkan orang-orang Tionghoa seenak pantat dan bangga disebut ‘pribumi’ (padahal nenek moyangmu dulu berjuang agar tidak disebut demikian oleh Londo-Londo itu!). Bedebah yang kuasanya lebih besar ketimbang Tuhan yang mereka curi namanya. Bedebah huru-hara yang hanya bisa demo, demo, demo, tapi tidak kerja. Bedebah pemuja manusia kesuci-sucian. Bedebah pembohong bertutur halus yang anti kenyataan yang kasar demi ‘menjaga hati’. Bedebah berpikiran pendek—lebih pendek ketimbang sumbu mercon, pantas cepat meletus. Bedebah intoleran yang cuma bisa menuntut namun tak terima dituntut.

Penulis pun seorang bedebah. Ya, bedebah keras kepala yang melawan umat agamanya sendiri demi sesuatu yang dinilai sama oleh tuhan manapun: kejujuran dan integritas.

Tahun ini, tidak ada yang bangkit di Indonesia selain diskriminasi dan rasa superior semi-fasis. Maka selamat Hari Intoleransi Nasional, para bedebah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s