The Curious-kitty: Analog Camera 101

Halo!

Akhirnya aku kembali lagi ke laman—yang sempat beralihfungsi menjadi wadrun (wadah runtah) berupa curhat—ini. Demi menebus bulan-bulan yang berlalu tanpa produktivitas dan unggahan-unggahan sampah sebelumnya, berkat ide seorang kawan, kuputuskan untuk membuat unggahan berjudul “The Curious-kitty”.

Jadi, apa yang dipikirkan oleh seekor anak kucing yang penasaran ini?

Barangkali kalian tahu sebuah situs tanya-jawab bernama CuriousCat (CC). Nah, beberapa waktu belakangan (nampaknya gara-gara aku pernah bercuit di Twitter mengenai keinginanku untuk membeli kamera analog) berbagai pertanyaan terkait kamera analog pun menghampiri akun CC-ku. Kalau boleh jujur, aku ini tidak ahli dalam hal fotografi—tidak seperti dalam penulisan, walaupun jelas bukan ahli juga—tapi setidaknya aku pernah belajar sedikit mengenai teori dan praktik fotografi selama tiga semester perkuliahan berturut-turut. Ditambah lagi, kemarin aku baru saja membeli sebuah pocket analog camera dengan merk Fujifilm Axion. Biasa, termakan promo harga murah. Kamera secondhand ini kudapatkan dengan total harga Rp243.000,00 di akun Instagram @.morninggiantshop, sudah termasuk satu roll film Vista 200 dan ongkos kirim ke kawasan Parongpong. Karena merupakan compact camera dengan fixed lens, kameraku ini tidak memiliki fitur zoom dan focus; yah, hanya untuk jeprat-jepret, lah.

IMG20170730145741

Kamera Fujifilm Axion dengan roll film Vista plus 200.

Kembali lagi ke bahasan utama. Setelah kukatakan bahwa kamera pesananku sudah tiba, segera saja beberapa pertanyaan muncul di akun CC-ku, menanyakan perbedaan antara kamera yang kubeli dengan kamera analog lainnya. Untuk itu, kemudian terpikirlah olehku, “Kenapa seluruh pertanyaan dan jawaban ini tidak kurangkum saja menjadi sebuah pembahasan di laman blog-ku?”

Dan muncullah The Curious-kitty, si anak kucing yang penasaran.

Baiklah, daripada berpanjanglebar, berikut ini ulasan seputar kamera analog yang dirangkum dari akun CC milikku.

  1. Analog Camera: The Introduction
  • Kamera analog itu apa, sih? Beda ya, dengan kamera film?

Nah, sebelum mulai berkenalan dengan kamera analog, ini yang harus diketahui: kamera analog dan kamera film itu sama, hanya berbeda istilah. Intinya sih, kamera yang masih menggunakan roll film dan bukan kamera digital seperti yang banyak beredar di pasaran sekarang ini. Kalau zaman dulu, orang tua kita biasa menyebutnya ‘tustel‘.

  • Kamera apa yang ingin kamu beli? Berapa harganya?

Banyak sih, kalau harus disebutkan semua. Beberapa yang menurutku menarik adalah Nikon F-301, Ricoh 35 ZF, Olympus 35SPN, dan Canonet QL17. Yang terakhir kusebutkan ini ibaratnya menjadi tustel wajib-punya bagi para fotografer analog, terutama karena sistem QL (Quick Loading) yang membuat proses pemasangan roll film pada kamera berjalan lebih efisien.

Untuk harga, biasanya kamera-kamera tersebut dijual mulai dari harga Rp300.000,00 dengan kondisi apa adanya. Bisa jadi beberapa fitur seperti lightmeter atau flash sudah mati, adanya jamur pada viewfinder dan lensa kamera, hingga yang paling parah, kamera sudah mati total, jadi fungsinya hanya sebagai pajangan dan koleksi. Tapi masih ada yang menjual kamera analog lama dengan kondisi lengkap dan masih berfungsi dengan baik–dan dihargai sesuai kelangkaannya, tentu saja. Berhubung popularitas kamera digital membuat kamera analog berhenti diproduksi (selain disposable camera), dapat dipastikan seluruh kamera film yang dijual baik secara online maupun offline saat ini adalah barang bekas-pakai (secondhanded). Itu yang membuat harganya dapat menjadi sangat murah atau malah sangat mahal.

  • Apa yang dimaksud dengan 42mm, 35mm, dan sejenisnya pada kamera?

Hal tersebut merupakan ukuran format film dan range lensa kameranya. Format film ini biasanya berpengaruh terhadap efek bokeh, resolusi, distorsi, dan lain-lain pada hasil foto.

  • Apa saja yang harus diperhatikan oleh pengguna kamera analog amatir?

Cek segala kelengkapan dan spesifikasi yang terdapat pada kamera yang kalian inginkan / miliki. Misalnya, ketersediaan fitur zoom dan focus, fungsi tombol-tombol, battery room (untuk memasukkan baterai), film room (untuk menyimpan dan mengoperasikan roll film), viewfinder (jendela kamera untuk mengintai obyek), dan lain-lain. Akan lebih mudah seandainya kamera kalian masih dilengkapi dengan buku panduan yang asli.

  • Adakah referensi untuk mulai mempelajari dan mendalami fotografi, terutama dengan kamera analog?

Untuk pengetahuan dasar, sebenarnya sekarang ini banyak buku yang membahas tentang dasar fotografi umum, jadi bisa diaplikasikan ke berbagai jenis kamera digital maupun analog. Biasanya bab-bab awal menjelaskan tentang perbedaan kamera digital dan analog dari segi tampilan fisik (body), mesin, sampai teknik pengambilan gambarnya. Selanjutnya dijelaskan juga tentang shutter speed, apperture, ISO, dan efek-efek yang bisa dihasilkan sesuai pengaturan masing-masing (bokeh, blurring, dan sebagainya)—kalian bisa coba-coba mengatur kamera sambil membaca penjelasannya. Jika sudah cukup memahami teorinya, mulailah mencoba praktik fotografi dengan fokus mengambil gambar dari satu-dua teknik saja sampai cukup menguasai caranya.

  • Bagaimana cara mengoperasikan kamera analog?

Pengoperasian kamera analog sepertinya berbeda-beda, kembali lagi ke tipe kamera masing-masing. Untuk Fujifilm Axion, kamera akan menyala begitu saklar tutup lensa digeser membuka. Dengan sistem auto-flash yang dimiliki kamera ini, indikator gambar telah tertangkap adalah ketika blitz muncul begitu tombol shutter ditekan.

  • Apa itu pocket camera? Apa bedanya dengan analog camera?

Maksud dari istilah ‘pocket camera‘ adalah kamera yang ukurannya tidak begitu besar (seperti SLR dan kebanyakan analog manual dengan lensa zoom), jadi ‘muat di saku’. Ini hanya istilah untuk ukuran kamera,  jadi analog camera atau digital camera dapat disebut demikian jika memiliki ukuran yang kecil.

  • Untuk para pemula fotografi, sebaiknya menggunakan kamera jenis apa?

Ini saran pribadiku saja untuk sesama newbie di dunia fotografi. Kalau hendak mempelajari dulu tentang fotografi, lebih baik dimulai dengan kamera digital saja, misalnya DSLR atau pocket digital camera. Kalian bisa coba melatih pengetahuan mengenai apperture, shutter speed, ISO, dan lain-lain yang akan berpengaruh ke hasil fotonya. Kalau sudah cukup memahami kamera digital, kalian bisa beralih menggunakan analog dengan bekal pengetahuan pengaturan kamera yang telah disebutkan sebelumnya. Mungkin ini merupakan metode kebalikan dari para orang tua kita yang telah mengenal kamera analog sebelum memasuki era digital.

  1. Lomography and Disposable Camera: A Short Peek 
  • Apa itu lomografi?

Lomography atau lomografi merupakan jenis fotografi dari Lomographic Society yang ditemukan lewat eksperimen toy camera. Prinsipnya, fotografi ini dilakukan dengan teknik pengambilan foto yang ‘salah’ supaya menjadi foto yang artistik dan unik karena ada efek vignette dan kontras akibat pencahayaan yang ‘bocor’. Yang terpenting dari konsep lomografi adalah fotografer sebaiknya jangan terlalu banyak berpikir dan terlalu sering mengutak-atik pengaturan kamera layaknya jenis fotografi pada umumnya; hal ini dimaksudkan agar foto yang dihasilkan lebih spontan dan ‘berseni’.

  • Apa itu disposable camera?

Disposable camera merupakan kamera film yang hanya bisa dipakai sekali, jadi roll film yang sudah habis terpakai tidak dapat diisi-ulang; berbeda dengan kamera film atau analog biasa yang bisa diisi kembali dengan roll film baru jika telah habis digunakan. Kebanyakan disposable camera memiliki lembar film yang sudah tertanam pada kameranya (built-in); itulah kenapa sifatnya sekali-pakai. Ada juga disposable camera yang dapat menggunakan roll film eksternal layaknya kamera analog normal.

  • Sepadankah antara harga dan hasil foto jika membeli disposable camera?

Soal sepadan atau tidak, itu kembali lagi kepada diri kalian. Jika kalian ingin mencoba menggunakan kamera lomo untuk selingan atau iseng saja, tidak ada salahnya membeli disposable camera. Namun, mengingat masa penggunaannya yang hanya sekali-pakai, kalian yang ingin lebih serius mendalami lomografi lebih baik langsung membeli kamera lomo atau analog dengan gulungan film yang dapat diisi-ulang.

  1. Roll and Action! 
  • Watch Your Roll!

Berkaca dari pengalaman bodohku yang dengan luar biasanya menggulung film sampai benar-benar masuk ke dalam roll… Hati-hati saat mengecek tombol di kamera. Kalau ada saklar / tombol dengan simbol yang kalian kurang pahami (misal: tanda panah seperti simbol ‘backward‘), coba baca kembali di buku panduannya (kalau ada) atau googling sebentar tentang kelengkapan tipe kamera kalian. Jika kalian benar-benar penasaran hendak menekan tombolnya, sebaiknya jangan biarkan roll film berada di dalam ruangnya. 

  • Bagaimana jika lembar film tidak sengaja tergulung seluruhnya hingga ke dalam roll? Apa yang harus dilakukan?

Nah, inilah pengalaman bodohku yang terjadi tepat setelah aku mendapatkan kameraku. Karena panik, aku langsung googling cara mengeluarkan film yang tertelan ke dalam roll. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, tapi yang satu ini tampaknya menjadi yang paling mudah untuk penanganan kilat.

Alat-alat:

  • Afdruk / lembar film negatif yang sudah pernah terpakai. Lebih baik jika menggunakan sisa lembar film hitam yang tidak memiliki gambar untuk mencegah kerusakan, namun tidak masalah kalau yang ada hanya lembar film biasa.
  • Double tape; perekat dengan dua sisi.

Langkah kerja:

  • Tempelkan double tape pada bagian ujung lembar film bekas (jangan lupa untuk membuka segel perekatnya).
  • Siapkan roll film yang hendak ‘diselamatkan’.
  • Pada roll film, ada bagian mencuat yang celahnya berfungsi sebagai tempat mengeluarkan lembar film; masukkan film bekas yang telah diberi perekat ke dalam celah berwarna hitam tersebut, pelan-pelan saja agar tidak merusak lembar film. Masukkan terus tapi jangan sampai seluruhnya.
  • Jika sudah tidak dapat dimasukkan lebih jauh lagi, tarik lembar film bekas ke luar.
  • Ujung lembar film baru akan turut tertarik keluar dari roll film, menempel pada film bekas.
  • Lepaskan dari perekat secara hati-hati.
  • Roll film baru pun selamat.

  • Bagaimana cara memasang roll film pada kamera dengan pengaturan manual dan auto?

Manual: ini untuk tipe-tipe kamera analog seperti produk Pentax, Canonet, dan lain-lain. Biasanya ujung roll film yang sudah masuk film room harus dikaitkan pada bagian khusus untuk film di kamera, kemudian digulung secara manual menggunakan kokang yang ada pada kamera (posisi kokang berada di kanan atas, di dekat viewfinder dan tombol-tombol pengaturan).

Auto: ini mirip dengan Axion milikku, Minolta, dan jenis kamera saku lainnya. Dalam hal pemasangan roll film, pocket camera memang lebih mudah. Setelah kamera dinyalakan dan ujung film dimasukkan ke bagian roll, kalian tinggal menutup film room, kemudian film akan otomatis load / tergulung sendiri. Jika tidak tergulung secara otomatis, sebelum ditutup, tekan tombol shutter (untuk memotret); film akan tergulung setelahnya. Agar tidak terlalu banyak lembar film yang tergulung sebelum dipakai, segera tutup bagian belakang kamera setelah terdengar suara penggulungan lembar film; proses loading akan berhenti saat itu juga.

  • Bagaimana cara mengubah hasil foto pada lembar film menjadi bentuk digital untuk diunggah di media sosial?

Di zaman digital kini, bahkan hasil foto dari kamera analog pun dapat dikonversi menjadi bentuk digital untuk diunggah di media sosial. Jika kalian bingung cara mengubahnya, datanglah ke studio foto terdekat yang masih menyediakan jasa cuci-cetak foto, kemudian tanyakan jika mereka dapat mengkonversi foto dari film negatif kalian ke dalam versi digital.

  • Bolehkah mengganti roll film sebelum habis kapasitasnya?

Sama halnya dengan kamera polaroid yang harus digunakan sampai habis, demikian pula dengan roll film pada kamera analog. Selain penggulungan lembar film yang rumit jika pengguna bolak-balik mengganti roll film pada satu kamera, sisa film yang belum terpakai akan terbakar jika dikeluarkan sebelum habis dan pada akhirnya akan terbuang sia-sia.

  • Apa yang dimaksud dengan angka 200, 400, dan sebagainya pada roll film?

Berbeda dengan kamera digital yang ISO-nya bisa diatur di kamera itu sendiri, ISO pada kamera analog tergantung dari roll film yang dipakai. Biasanya kapasitas ISO dan foto yang bisa diambil tercantum pada kemasan roll film-nya (ISO untuk roll film yang sering dijual di pasaran rata-rata berkisar antara 200 – 400. Kapasitas foto rata-rata bisa mencapai 36 kali pengambilan gambar). Sebagai informasi tambahan, ISO 200 – 400 cenderung lebih optimal jika digunakan untuk fotografi di luar ruangan (outdoor); di indoor, pengambilan gambar dengan ISO tersebut akan membutuhkan cahaya artifisial atau flash, jika tidak foto yang dihasilkan akan menjadi gelap.

  • Apakah roll film dengan berbagai indeks ISO dan merk dapat digunakan pada kamera analog apa saja?

Roll film dengan indeks ISO dan merk apapun biasanya dapat digunakan pada semua jenis kamera analog. Meskipun terkadang kamera yang produsennya juga menghasilkan roll film (contoh: Fuji) merekomendasikan untuk menggunakan roll film dengan merk yang sama, hal tersebut tidak berpengaruh banyak terhadap pengoperasian kamera dan hasil foto.

 

  1. Lens & Apperture
  • Apa kelebihan dan kekurangan kamera dengan fixed lens seperti Axion?

Secara pengoperasian, fixed lens lebih mudah saat digunakan, tidak begitu rumit dengan beragam pengaturan dan tombol. Akan tetapi, karena modelnya yang simple itu pulalah, kreasi hasil fotonya tergantung pada usaha kita sebagai fotografer. Misalnya, jika hendak mengambil foto detil, kita harus mendekat sendiri menuju ke obyek fotonya. Itu pun tidak akan benar-benar detailed focus. Lebih tepatnya, kamera dengan jenis lensa seperti ini memang hanya untuk “jeprat-jepret” saja.

  • Kalau kamera Leica, termasuk ke dalam jenis kamera dengan lensa seperti apa?

Leica setahuku memiliki lensa zoom dengan sistem manual, jadi kamu bisa atur zoom dan focus. Mungkin itu perbedaan utama antara kamera sejenis Axion dengan Leica, tapi keduanya tetap analog camera yang sama.

  • Apa itu f-1.4 dan sebagainya?

f1.4 dan sebagainya (selanjutnya disebut f-number) biasa disebut aperture, fungsinya untuk menandai kapasitas f (focal length) atau jarak bukaan lensa. Jika kalian memotret, pada setiap jepretan, lensa akan menutup sebentar dan langsung terbuka lagi setelahnya; f-number ini menandakan cahaya yang masuk ke dalam lensa dalam sekali pengambilan gambar. Aperture berpengaruh pada ketajaman dan exposure cahaya pada hasil akhir gambar. Semakin besar angka focal length-nya, bukaan lensa justru akan semakin kecil dan cahaya yang masuk menjadi lebih sedikit sehingga hasil foto akan lebih gelap. Misalnya, kamera dengan aperture f/1.4 akan menghasilkan foto yang lebih terang dibanding kamera dengan aperture f/16. Intinya, f-number yang terlalu kecil bisa menyebabkan cahaya masuk terlalu banyak dan bocor; f-number yang terlalu kecil menyebabkan sedikit cahaya masuk sehingga foto yang dihasilkan pun gelap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s