The Journey Madness: Swakelana di Dewata (1)

IMG20170711175827

Patung Satria Gatotkaca di Taman Satria Gatotkaca, Denpasar, Bali, tampak belakang.

 

Dari sekian banyak hal yang ingin kulakukan sebelum mati (terdengar berlebihan, tapi rasanya memang demikian adanya), salah satunya adalah melakukan perjalanan jauh sendirian. Mungkin sepele bagi kalian yang sudah sering melakukannya (apalagi bagi para anak kos perantau, ya, tentu saja ini merupakan hal yang lumrah), namun setiap hal bagiku mesti dipandang sebagai sesuatu yang baru. Sebelum ini, aku hanya pernah melakukan perjalanan sendirian ke tempat-tempat yang dekat dari Bandung, seperti Padalarang, Garut, Cianjur, Tangerang, dan Jakarta. Tetap saja aku merasakan banyak pengalaman baru; mengurus keberangkatan dengan travel, naik KRL, menerka-nerka lokasi tujuan sebelum memesan angkutan online, mencoba naik angkot di kota lain tanpa tahu rutenya, bolak-balik mengecek ketersediaan kursi penumpang untuk pulang dengan kereta api, dan seterusnya.

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, aku telah sering sekali bepergian, meski kebanyakan di antaranya merupakan perjalanan rombongan. Memang dasar tidak tahan terhadap godaan traveling, aku pun diam-diam mengagendakan perjalanan solo ke Bali. Rencana awalku adalah awal tahun 2017, namun orangtuaku tidak mengizinkan karena menurut mereka rencanaku terlalu mendadak. Kebetulan, restu dari mereka akhirnya diberikan padaku ketika kuubah rencana jadwal keberangkatanku menjadi pertengahan tahun. Selain karena aku bisa mengumpulkan lebih banyak uang selama menunggu, pertemuanku dengan seorang kawan asal Bali pada akhir April lalu membuat orangtuaku menjadi agak lebih tenang karena tahu aku tidak akan benar-benar sendirian di sana. Ditambah lagi, kawanku ini mengajakku untuk menginap di rumahnya, jadi aku dapat menghemat pengeluaran yang akan mengucur lebih banyak jika aku menginap di hotel selama enam hari (Han, kalau lo baca ini, makasih banyak! Salam buat ortu).

Baiklah, sudah terlalu jauh aku berkicau. Saatnya berkisah!

 

HARI 1, 11 Juli 2017: Sampai Jumpa, Bandung!

Ada beberapa hal yang agak membuatku was-was saat menyiapkan rencana perjalanan solo ini, salah satunya: mengurus transportasi pesawat.

Awalnya aku hendak berangkat ke Bali menggunakan kereta api–jadi, aku menumpang kereta api dari Bandung, transit di Surabaya, dan berlanjut ke Banyuwangi–dan menyeberangi Selat Bali dengan menggunakan kapal feri dari Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk di Bali. Namun estimasi waktu yang ditempuh hanya untuk melintasi antarpulau terlalu lama, jadi pada akhirnya aku memutuskan untuk mencari tiket pesawat. Sayangnya, beberapa kali aku melewatkan promo tiket murah pulang-pergi dari Bandung ke Bali, jadi terpaksa kubeli tiket dengan harga normal. Dengan maskapai penerbangan Air Asia, kudapatkan tiket pulang-pergi seharga Rp1.200.000,00. Perkara mencari dan membeli tiket pesawat dewasa ini jelas dipermudah dengan adanya berbagai aplikasi perjalanan seperti Traveloka, Tiket.com, dan aplikasi keluaran Air Asia sendiri, jadi aku tidak mengalami kendala berarti.

Lantas, kenapa was-was?

Sebelum perjalanan ini dimulai, baru tiga kali aku menggunakan moda transportasi pesawat, dan semua merupakan perjalanan pergi dan pulang dari Bali; itu pun bukan aku sendiri yang mengurus segala administrasinya. Pada 2013, sekolahku mengadakan studi kunjungan ke pulau tersebut dan kami kembali ke Bandung menggunakan pesawat (rombonganku mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, tapi intinya sama saja), jadi segala pemesanan tiket sudah diurus oleh pihak sekolah. Pada 2016, sepupuku mengajak para pemudi-pemuda di keluarga besar untuk berlibur juga ke sana; rupanya ia telah membereskan transaksi pemesanan tiket pesawat dan hotel, jadi aku pun tahu beres. Nah, di tahun ini, segalanya kuurus sendiri untuk pertama kali; yang membuatku cemas justru setelah pemesanan tiket selesai.

Aku baru kali ini mengetahui cara check-in pesawat. Untuk Air Asia, proses check-in sangat mudah karena dapat dilakukan secara online melalui situs resmi maupun aplikasi luncuran maskapai tersebut. Jika tidak, check-in juga dapat dilakukan pada hari H melalui mesin self check-in Air Asia yang berada di bandara. Akan kutuliskan langkah-langkahnya pada posting di luar ini (kalau aku ingat). Aku melakukan proses check-in sekitar lima hari sebelum keberangkatan dan langsung mendapat boarding pass; elektronik dan siap-cetak. Karena tidak yakin konter Air Asia di Bandara Husein Sastranegara dapat menerima boarding pass elektronik pada aplikasiku, maka akhirnya aku mencetak sendiri boarding pass yang dikirimkan melalui e-mail. Singkatnya, aku sudah mengantongi syarat penerbangan tersebut di hari terakhir sebelum keberangkatan.

Perasaan khawatirku rupanya tidak beralasan. Berhubung ini bukan pertama kalinya aku menginjakkan kaki di bandara, aku sudah mengetahui sedikit-banyak prosedur standar pemeriksaan di sana. Di pintu masuk, aku hanya perlu menunjukkan kartu identitas diri (misalnya KTP / SIM) dan boarding pass atau itinerary penerbangan. Oh ya, usahakan jangan mengenakan terlalu banyak aksesoris logam saat hendak berangkat karena akan kesulitan saat harus melepas semuanya sebelum melewati gerbang pemeriksaan keamanan. Setelah melewati gerbang pemeriksaan, seorang petugas menahanku sebentar. Aku agak tercekat. “Mampus, kenapa pula, nih?” Usut punya usut, rupanya ia menyarankan agar aku memindahkan monopod (lebih dikenal sebagai tongsis) yang kubawa di dalam ransel, ke dalam koper atau bagasi. Oh, ternyata itu saja. Aku pun melakukan apa yang dikatakan oleh petugas sebelum beranjak ke konter penerbangan.

Rupanya aku datang terlalu cepat. Konter baru dibuka pukul 12:00 WIB dan aku sudah berada di sana sejak setengah jam sebelumnya. Namun rasanya keputusanku untuk datang cepat ini benar; bahkan sebelum konter dibuka, sudah ada beberapa penumpang yang menaruh troli dan bagasinya di depan konter, seakan menandai posisi antrian mereka. Kalau kulihat, beberapa yang terdepan adalah rombongan dari Timur Tengah, sementara di belakangnya adalah troli milik rombongan turis lokal. Ah, ya. Memang inovatif sekali, masyarakat Indonesia. Segera setelah melihat petugas berbaju merah memasuki konter, kami–aku dan para penumpang yang telah ‘menandai’ antrian mereka–langsung berdiri mengantri. Baru saja pelayanan konter dimulai, rombongan dari Timur Tengah ini membuat antrian diam tak bergerak cukup lama. Rupanya mereka mengalami kendala dengan salah satu bagasi mereka yang kelebihan muatan sehingga mereka harus membongkar ulang bagasi tersebut dan memindahkan sebagian isinya ke bagasi lain yang kira-kira masih cukup agar tidak terkena charge. Ya sudah, kutonton saja mereka membuka koper, memindahkan beberapa potong baju dan payung (untuk apa mereka membawa hingga lima buah payung di dalam koper???). Baru lima menit kemudian mereka menyelesaikan perkara check-in dan antrian pun kembali bergerak. Kemudian tiba giliranku. Kuserahkan KTP dan boarding pass yang kucetak sendiri itu, lalu bagasiku ditimbang (beratnya 8kg saat berangkat) dan diangkut ke kompartemen pesawat. Administrasiku selesai saat petugas menyerahkan kembali KTP dan memberikanku boarding pass yang asli. Kisah selanjutnya biasa saja; pengecekan keamanan, sedikit window shopping, menunggu pesawat di ruang tunggu, dan boarding memasuki pesawat. Omong-omong, seharusnya boarding dimulai pukul 13:00 WIB, namun ada sedikit keterlambatan sehingga boarding baru dilaksanakan sekitar pukul 13:20 WIB. Aku menginjakkan kaki di pesawat pukul 13:30 WIB. Begitu duduk di kursi, rupanya hujan mulai turun. Perasaan cemas kembali menyergap. “Apa yang akan terjadi jika kami terbang di tengah cuaca hujan?” batinku. Namun untunglah, pilot menunggu hingga hujan reda sebelum menerbangkan pesawat. Kalau tidak salah, pesawat take-off pukul 13:45 WIB dan hujan sudah reda.

Berhubung pesawat yang kutumpangi ini merupakan kelas ekonomi, sejujurnya, rasanya seperti berkendara dengan menggunakan bus antarkota. Penuh sekali dan agak berisik karena banyak anak kecil yang ikut. Aku mendapat tempat duduk di tengah, jadi aku tidak dapat mengalihkan perhatian ke luar jendela seperti yang biasa kulakukan. Agar tidak terlalu canggung, kuhabiskan sepanjang perjalanan dengan membaca buku Demian karya Hermann Hesse (dan tidur setelahnya). Tak terasa, setelah kira-kira lebih dari satu jam berada di udara, pilot menyampaikan bahwa kami sebentar lagi akan mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Secepat itu rupanya aku meninggalkan Bandung!

Mempercepat alur kisah, pesawat pun mendarat di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 16:00 WITA. Setelah keluar dari pesawat, saatnya mengambil bagasi di bandara dan beranjak ke luar karena kawanku sudah menunggu. Kami pun bertemu di luar pintu gerbang kedatangan dan meluangkan waktu untuk menunaikan ibadah shalat Ashar di mushala terdekat sebelum berangkat ke rumahnya di Sesetan.

Tapi rupanya aku takkan pernah terbebas dari kemacetan, apalagi di pulau wisata seperti Bali. Belum pula kami beranjak keluar dari kawasan bandara, antrian panjang kendaraan sudah terbentuk di pintu keluar. Butuh waktu hingga 15 menit sebelum mobil kami dapat mencapai jalan raya Ngurah Rai. Berencana mencari oleh-oleh untuk seseorang nun jauh di sana sebelum mulai berlibur, kami mampir sebentar ke sebuah toko oleh-oleh, namun tidak mendapatkan apa-apa; maka kami pun langsung menuju ke rumah kawanku ini. Akibat macet berkepanjangan, kami baru tiba di rumahnya selepas Maghrib, lebih-kurang pukul 18:00 WITA. Kami menyimpan bagasi dan segala barang bawaan lainnya serta menunaikan ibadah shalat Maghrib dan Isya, kemudian kembali pergi ke luar untuk makan malam. Sedikit nongkrong di sebuah kafe terbuka di sekitar sana, kami pulang pukul 20:00 WITA. Berhubung sebenarnya aku tidak menyiapkan daftar tempat tujuan, sebelum tidur, kami mendiskusikan rencana perjalanan keesokan harinya. Akhirnya diputuskanlah kalau kami pertama-tama akan mampir ke kawasan Ubud, sisanya menyusul. Demi efektivitas, kami berangkat ke sana menggunakan sepeda motor alih-alih mobil. Pukul 23:00 WITA, mata kami sudah terpejam.

Liburan yang sesungguhnya telah di depan mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s